Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan

Mengapa Orang Rajin Bermaksiat Namun Rezeki Lancar dan Sukses Berbisnis ?

By // Tidak ada komentar:
lelaki minum bir bar
Mengapa Orang Rajin Bermaksiat Namun Rezeki Lancar dan Sukses Berbisnis ?

ADA orang yang maksiatnya lancar tapi rezekinya juga lancar, bisnisnya sukses, pelitnya luar biasa. Bagaimana bisa?

Jawabannya ada pada hadits berikut ini:
عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إذا رأيت الله يعطي العبد من الدنيا ما يحب وهو مقيم على معصيته ؛ فاعلم أنما ذلك منه استدراج ، ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ} [الأنعام: 44].

Dari ‘Uqbah bin Amir, dari Rasulullah SAW: “Apabila engkau melihat Allah mengaruniakan dunia kepada seorang hamba sesuai dengan yang ia inginkan, sementara ia tenggelam dalam kemaksiatan, maka ketahuilah itu hanya istidraj darinya”, kemudian Rasulullah SAW membaca firman: “ Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa”.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: {سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لا يَعْلَمُونَ} [القلم: 44] ؛ قَالَ: كُلَّمَا أَحْدَثُوا خَطِيئَةً جددنا لهم نعمة وأنسيناهم الاسْتِغْفَارَ.

Ibnu Abbas menjelaskan firman Allah ‘Azza wajallah: “Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur ke arah kebinasaan dengan cara yang tidak mereka ketahui”, ia berkata: Setiap kali mereka melakukan satu kesalahan kami beri mereka nikmat yang baru dan kami lupakan mereka untuk beristighfar.

عن سفيانَ في قولِهِ {سَنَسْتَدْرِجُهُم مِّنْ حَيْثُ لاَ يَعْلَمُون} [الأعراف: 182] قالَ: نُسبغُ عَليهم النِّعمةَ ونَمنَعُهم الشكرَ.

Sufyan ats Tsauriy menjelaskan firman Allah: “Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur ke arah kebinasaan dengan cara yang tidak mereka ketahui”, ia berkata: Kami karuniakan nikmat kepada mereka dan kami halangi mereka untuk bersyukur.

Kelancaran rezeki bukanlah standar sayangnya Allah kepada seseorang. Boleh jadi kelapangan hidup itu bentuk azab yang tidak disadari. Untuk apa banyak harta tapi batin merana, ancaman azab akhirat tidak dipedulikan. Kalaulah standar sayangnya Allah itu dengan kemewahan hidup dunia, Qarunlah orang yang paling disayangi Allah. Tapi akhirnya ia binasa ditelan bumi.

Juga sebaliknya, jangan mengira orang yang banyak ujian dan cobaan dalam hidup tanda ia dimurkai oleh Allah. Boleh jadi itu adalah musibah untuk menghapuskan dosa dan meninggikan derajatnya di surga nanti.
Penuntut ilmu juga begitu. Jangan mengira dapat nilai bagus dan selalu sukses adalah ukuran kasih sayang Allah kepadanya. Tapi lihatlah, bagaimana shalatnya, puasanya, bagaimana ketaatannya untuk tunduk pada aturan Allah, dan bagaimana usahanya untuk mengamalkan ilmunya.

Maka berhati-hatilah, kita sedang di posisi mana?
Standar sayang atau marahnya Allah itu adalah sejauh mana kita mampu taat kepada-Nya atau sedalam apa tenggelam dalam kemaksiatan. [http://zulfiakmal.wordpress.com/Sumber: Ustadz Fesbukers/]

Ketika Rasulullah SAW Meninggalkan Abu Bakar RA

By // Tidak ada komentar:
Ketika Rasulullah SAW Meninggalkan Abu Bakar RA

Abu Hurairah meriwayatkan, bahwa suatu sorang lelaki tiba-tiba datang & mencaci maki Abu Bakar, sehingga membuat Rasulullah Saw yang tengah duduk didekatnya merasa heran dan tersenyum.

Namun ketika umpatan lelaki itu semakin banyak, Abu Bakar terpancing untuk melontarkan balasan, dan Rasulullah pergi meninggalkannya.

Abu Bakar segera beranjak dari tempatnya dan bertanya, "Ya Rasulullah, saat dia mencaci maki saya engkau tetap duduk. Tetapi saat saya membalas sebagian caci makinya engkau marah dan langsung berdiri, kenapa?"

Rasulullah Saw menjawab "Sebenarnya (saat engkau dicaci maki) ada malaikat bersamamu, dan dialah yang membalas makian orang itu. Tetapi saat engkau membalasnya, pergilah malaikat dan datanglah setan, dan aku tidak hendak duduk bersama setan."

Setelah itu Rasulullah Saw berkata "Hai Abu Bakar, ada tiga hal dan semuanya adalah haq;

1) Setiap hamba yang dizalimi dan itu memang layak baginya, lalu ia membiarkannya karena Allah 'Azza wa Jalla, pasti (dengan itu) Allah akan menolongnya.

2) Setiap orang yang membuka pintu memberi demi menyambung silaturahmi, pasti (dengan itu) Allah akan memberinya tambahan yang banyak,

3) Dan setiap hamba yang membuka pintu meminta untuk memperbanyak hartanya, pasti (dengan itu) Allah 'Azza wa Jalla akan menambah kekurangan padanya"

~ HR Ahmad

*dari fb Abu Qomar Al Faruq


Alangkah Indahnya Islam

By // Tidak ada komentar:

Tema keindahan Islam sangat luas, panjang lebar sulit untuk diringkas dengan bilangan waktu yang tersisa. Sebelumnya, yang perlu kita ketahui adalah firman Allah.


إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ


“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Qs. Ali Imran: 19)


Juga firman-Nya.


وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ


“Barang siapa yang mencari selain Islam sebagai agama, maka tidak akan diterima.”(Qs. Ali Imran: 85)


Jadi, agama yang dibawa oleh para nabi dan menjadi sebab Allah mengutus para rasul adalah dienul Islam. Allah mengutus para rasul untuk mengajak agar orang kembali kepada Allah. Para rasul datang untuk memperkenalkan Allah. Barang siapa menaati mereka, maka para rasul akan memberikan kabar gembira kepadanya. Adapun orang yang menentangnya, maka para rasul akan menjadi peringatan baginya. Para rasul diperintahkan untuk menegakkan agama di dunia ini.


Allah berfirman.


شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحاً وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ


“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu ‘Tegakkan agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.’ Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)Nya orang yang kembali (kepada)-Nya.” (Qs. Asy-Syura: 13)


Islam adalah agama yang dipilih Allah untuk makhluk-Nya. Agama yang dibawa Nabi merupakan agama yang paripurna. Allah tidak akan menerima agama selainnya. Jadi agama ini adalah agama penutup, yang dicintai dan diridhaiNya.


Allah berfirman.


يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ


“Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada)-Nya.” (Qs. Asy-Syura: 42)


Sebagian ahli ilmu mengatakan, Sebelumnya aku mengira bahwa orang yang bertaubat kepada Allah, maka Allah akan menerima taubatnya. Dan orang yang meridhoi Allah, niscaya Allah akan meridhoinya. Dan barang siapa yang mencintai Allah, niscaya Allah akan mencintainya. Setelah aku membaca Kitabullah, aku baru mengetahui bahwa kecintaan Allah mendahului kecintaan hamba pada-Nya dengan dasar ayat,


يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ


“Dia mencintai mereka dan mereka mencitai-Nya.” (Qs. Al Maaidah: 54)


Ridha Allah kepada hambaNya mendahului ridha hamba kepada-Nya dengan dasar ayat,


رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ


“Allah meridhoi mereka dan mereka meridhoi-Nya.” (Qs. At-Taubah: 100)


Dan aku mengetahui bahwa penerimaan taubat dari Allah, mendahului taubat seorang hamba kepada-Nya dengan dasar ayat,


ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُواْ إِنَّ


“Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya.” (Qs. At-Taubah: 118)


Demikianlah, bila Allah mencintai seorang manusia, maka Dia akan melapangkan dadanya untuk Islam. 

Dalam Shahihain, dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah bersabda. “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Tidak ada seorang Yahudi dan Nasrani yang mendengarku dan tidak beriman kepadaku, kecuali surga akan haram buat dirinya.” (Hadits Riwayat Muslim)


Karena itu, agama yang diterima Allah adalah Islam. Umat Islam harus menjadikannya sebagai kendaraan. Persatuan harus bertumpu pada tauhid dan syahadatain. Islam agama Allah. Kekuatannya terletak pada Islam itu sendiri. Allah menjamin penjagaan terhadapnya.


Allah berfirman,


إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ


“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Qs. Al-Hijr: 9)


Sedangkan agama selainnya, jaminan ada di tangan tokoh-tokoh agamanya.


Allah berfirman.


بِمَا اسْتُحْفِظُواْ مِن كِتَابِ اللّهِ


“Disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab.” (Qs. Al Maaidah: 44)


Kalau mereka tidak menjaganya, maka akan berubah. Ia bagaikan sesuatu yang mati. Harus digotong. Tidak dapat menyebar, kecuali dengan dorongan sekian banyak materi. Sedangkan Islam pasti tetap akan terjaga. Karena itu, masa depan ada di tangan Islam. Islam pasti menyebar ke seantero dunia.


 Allah telah menjelaskannya dalam Al Quran, demikian juga Nabi dalam Sunnahnya. Kesempatan kali ini cukup sempit, tidak memungkinkan untuk menyebutkan seluruh dalil. Tapi saya ingin mengutip sebuah ayat.


مَن كَانَ يَظُنُّ أَن لَّن يَنصُرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ فَلْيَمْدُدْ بِسَبَبٍ إِلَى السَّمَاء ثُمَّ لِيَقْطَعْ فَلْيَنظُرْ هَلْ يُذْهِبَنَّ كَيْدُهُ مَا يَغِيظُ


“Barang siapa yang menyangka bahwa Allah sekali-kali tidak menolongnya (Muhammad) di dunia dan akhirat, maka hendaklah ia merentangkan tali ke langit, kemudian hendaklah ia melaluinya kemudian hendaklah ia pikirkan apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya.” (Qs. Al-Hajj: 15)


Dalam Musnad Imam Ahmad dari sahabat Abdullah bin Amr, kami bertanya kepada Nabi, “Kota manakah yang akan pertama kali ditaklukkan? Konstantinopel (di Turki) atau Rumiyyah (Roma)?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,“Konstantinopel-lah yang akan ditaklukkan pertama kali, kemudian disusul Rumiyyah.”Yaitu Roma yang terletak di Italia. Islam pasti akan meluas di seluruh penjuru dunia. Pasalnya, Islam bagaikan pohon besar yang hidup lagi kuat, akarnya menyebar sepanjang sejarah semenjak Nabi Adam hingga Nabi Muhammadshallallahu ‘alaihi wa sallam.


Islam adalah agama (yang sesuai dengan) fitrah. Kalau anda ditanya, bagaimana engkau mengetahui Robb-mu. Jangan engkau jawab, “dengan akalku,” tapi jawablah, “dengan fitrahku.” Oleh karena itu, ketika ada seorang atheis yang mendatangi Abu Hanifah dan meminta dalil bahwa Allah adalah Haq (benar), maka beliau menjawab dengan dalil fitrah. “Apakah engkau pernah naik kapal dan ombak mempermainkan kapalmu?” Ia menjawab, “Pernah.” (Abu Hanifah bertanya lagi), “Apakah engkau merasa akan tenggelam?” Jawabnya, “Ya.” “Apakah engkau meyakini ada kekuatan yang akan menyelamatkanmu?” “Ya,” jawabnya. “Itulah fitrah yang telah diciptakan dalam dirimu. 


Kekuatan ada dalam dirimu itulah kekuatan fitrah Allah. Manusia mengenal Allah dengan fitrahnya. Fitrah ini terkandung dalam dada setiap insan. Dasarnya hadits Muttafaq ‘Alaih. Nabi bersabda: “Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi.”


Akal itu sendiri bisa mengetahui bahwa Allah adalah Al-Haq. Namun ia secara mandiri tidak akan mampu mengetahui apa yang dicintai dan diridhoi Allah. Apakah mungkin akal semata saja dapat mengetahui bahwa Allah mencintai sholat lima waktu, haji, puasa di bulan tertentu? Karena itu, fitrah itu perlu dipupuk dengan gizi yang berasal dari wahyu yang diwahyukan kepada para nabi-Nya.


Sekali lagi, nikmat dan anugerah paling besar yang diterima seorang hamba dari Allah ialah bahwa Allah-lah yang memberikan jaminan untuk menetapkan syariat-Nya. 


Dialah yang menjelaskan apa yang dicintai dan diridhaiNya. Inilah nikmat terbesar dari Allah kepada hamba-Nya. Bila ada orang yang beranggapan ada kebaikan dengan keluar dari garis ini dan mengikuti hawa nafsunya, maka ia telah keliru. Sebab kebaikan yang hakiki dalam kehidupan ini maupun kehidupan nanti hanyalah dengan menaati seluruh yang datang dari Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.


Syariat Islam datang untuk menjaga lima perkara. Allah telah mensyariatkan banyak hal untuk menegaskan penjagaan ini. Islam datang untuk menjaga agama. Karena itu, Allah mengharamkan syirik, baik yang berupa thawaf di kuburan, istighatsah kepada orang yang dikubur serta segala hal yang bisa menjerumuskan ke dalam syirik, dan mengharamkan untuk mengarahkan ibadah, apapun bentuknya, (baik) secara zahir maupun batin kepada selain Allah. Oleh sebab itu, kita harus memahami makna ringkas syahadatain yang kita ucapkan.


Syahadat “Laa Ilaaha Illa Allah”, maknanya: tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, ibadah hanya milik Allah. Ini bagian dari pesona agama kita. Allah mengharamkan akal, hati dan fitrah untuk melakukan peribadatan dan istijabah (ketaatan mutlak) kepada selain-Nya. Sedangkan makna syahadat “Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”, (yakni) tidak ada orang yang berhak diikuti kecuali Muhammad Rasulullah. Kita tidak boleh mengikuti rasio, tradisi atau kelompok jika menyalahi Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah. Maka seorang muslim, di samping tidak beribadah kecuali kepada Allah, juga tidak mengikuti ajaran kecuali ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia tidak mengikutira’yu keluarga, ra’yu kelompok, ra’yu jama’ah, ra’yu tradisi dan lain-lain jika menyalahi Al Quran dan Sunnah.


Dakwah Salafiyah yang kita dakwahkan ini adalah dinullah yang suci dan murni, yang diturunkan oleh Allah pada kalbu Nabi. Jadi dalam berdakwah, kita tidak mengajak orang untuk mengikuti kelompok ataupun individu. Tetapi mengajak untuk kembali kepada Al Quran dan Sunnah. Namun, memang telah timbul dakhon (kekeruhan) dan tumbuh bid’ah. Sehingga kita harus menguasai ilmu syar’i. Kita beramal (dengan) meneladani ungkapan Imam Malik, dan ini, juga perkataan Imam Syafi’i, “Setiap orang bisa diambil perkataannya atau ditolak, kecuali pemilik kubur ini, yaitu Rasulullah.”


Telah saya singgung di atas, agama datang untuk menjaga lima perkara. Penjagaan agama dengan mengharamkan syirik dan segala sesuatu yang menimbulkan akses ke sana. Kemudian penjagaan terhadap badan dengan mengharamkan pembunuhan dan gangguan kepada orang lain. Juga datang untuk memelihara akal dengan mengharamkan khamar, minuman keras, candu dan rokok. Datang untuk menjaga kehormatan dengan mengharamkan zina, percampuran nasab dan ikhtilath (pergaulan bebas). Juga menjaga harta dengan mengharamkan perbuatan tabdzir (pemborosan) dan gaya hidup hedonisme. Penjagaan terhadap kelima perkara ini termasuk bagian dari indahnya agama kita. Syariat telah datang untuk memerintahkan penjagaan terhadap semua ini. Dan masih banyak perkara yang digariskan Islam, namun tidak mungkin kita paparkan sekarang.


Syariat telah merangkum seluruh amal shahih mulai dari syahadat hingga menyingkirkan gangguan dari jalan. Karena itu tolonglah jawab, kalau menyingkirkan gangguan dari jalan termasuk bagian dari keimanan, bagaimana mungkin agama memerintahkan untuk mengganggu orang lain, melakukan pembunuhan dan peledakan? Jadi, ini sebenarnya sebuah intervensi pemikiran asing atas agama kita. Semoga Allah memberkahi waktu kita, dan mengaruniakan kepada kita pemahaman terhadap Kitabullah dan Sunnah Nabi dengan lurus. Dan semoga Allah memberi tambahan karunia-Nya kepada kita. Akhirnya, kami ucapkan alhamdulillah Rabbil ‘Alamin.


[Diambil dari situs almanhaj.or.id yang disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun VIII/1425H/2005M rubrik Liputan Khusus yang diangkat dari ceramah Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman Tanggal 5 Desember 2004 di Masjid Istiqlal Jakarta]

***

Penulis: Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman hafizhahullah

 

Pernah Dengar Istilah SURURI ? Siapakah SURURI ?

By // Tidak ada komentar:

Oleh : Syaikh DR Abu Anas Muhammad bin Musa Alu Nashr
Pertanyaan.
Kapan seseorang dianggap termasuk orang-orang yang keluar dari manhaj Salaf, dengan arti bahwa dia bukan seorang Salafi? Benarkah jika kita berkata : Si Fulan beraqidah Salafi, bermanhaj Ikhwani?
Jawaban
Siapapun tidak berhak, baik seorang alim atau thalibul ilmi (penuntut ilmu) untuk memasukkan orang yang dikehendaki ke dalam Salafiyyah dan mengeluarkan darinya.Karena Salafiyyah bukanlah perusahaan(PT) yang memiliki saham, dan bukan organisasi gotong-royong, juga bukan hizb (kelompok) yang mengusir dan memisahkan (orang yang tidak disukai).
Salafiyyah adalah Islam. Tidaklah seorangpun mampu untuk mengeluarkan orang lain dari Islam. Seorang tidak akan keluar dari Islam kecuali dengan kekafiran, atau dengan mengingkari perkara yang sudah diketahui secara pasti dari agama. Seseorang tidak keluar dari Islam kecuali dengan perkara-perkara yang menyebabkan kekafirannya sebagaimana disebutkan oleh para ulama.
Tetapi jika adaorang yang salah, atau menyelisihi kebenaran di dalam masalah-masalah dan kaedah-kaedah manhaj Salaf, kita (dapat) mengatakan : Si Fulan menyelesihi manhaj Salafi, atau Si Fulan meyelisihi aqidah (yang benar) atau Si Fulan menyelesihi apa yang ada pada Salaf.
Adapun jika ada orang yang ridha dengan aqidah Salaf, tetapi tidak ridha dengan manhaj Salaf, maka ini tidak didapati di dalam manhaj Salaf.
Salafi haruslah mengikuti Salaf dari ujung kepalanya sampai ujung kakinya. Salafi haruslah mengambil seluruh agama. Dia harus ridha dengan aqidah Salaf, ridha dengan manhaj Salaf, berakhlak dengan ahlak Salaf, mengamalkan hukum-hukum Salaf, inilah Salafi. Karena Allah telah berfirman.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً
Hai oran-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam silm (Islam) keseluruhannya. [Al-Baqarah : 208]
Maka kita tidak mengenal seorang Salafi yang ridha atau mengakui aqidah Salaf, tetapi dia mengambil manhaj-manhaj hizbiyyah (ta’ashub kepada kelompok). Dia tidak memandang kecuali dari hizbiyyah. Tidak mendekati kecuali kepada anggota-anggota hizb (kelompoknya), tidak memberikan wala (kecintaan dan pembelaan) kecuali di dalam hizbnya, tidak mencintai kecuali di dalam hizbnya. Membenci orang lain yang bukan dari kelompoknya, walaupun orang itu termasuk orang yang paling shalih dan paling benar serta paling mengikuti petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan petunjuk para sahabatnya. Perbuatan menyesuaikan seperti ini tidaklah dakui oleh manhaj Salafi.
Ketika kita menyebut manhaj Salafi, maka hal ini merupakan alamat yang meliputi aqidah, perilaku dan muamalah, dan seluruh perkara yang berhubungan denga Islam, hukum-hukumnya dan kaedah-kaedahnya.
Tetapi sesungguhnya kesempurnaan itu hanyalah sifat Allah semata, dan sifat maksum (terjaga dari kesalahan) hanyalah bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita tidaklah mewajibkan seorang Salafi itu bersih dari seluruh cacat, bersih dari seluruh ketergelinciran, dan jauh dari seluruh kesalahan.
Tetapi ada perbedaan antara orang yang keliru karena salah memahami, dengan orang yang mengambil manhaj yang memusuhi (menyelisihi) manhaj Salaf, membelanya, mendakwahkannya, membenarkan wala karenanya dan memusuhi karenanya. Wabillahit taufiq.
Pertanyaan.
Kita telah tahu bahwa dakwah Salafiyyah adalah dakwah yang bersih dan benar. Tetapi sangat disayangkan telah datang pencemaran nama dan keburukan dari fihak lain. Seperti dari Sururiyyin (para pengikut Surur). Maka bagaimanakah Sururiyah (pemahaman Surur) itu? Dan apakah kaedah-kaedah dan prinsip-prinsip faham Sururiyah itu, agar kita dapat mengetahui dan menghukuminya?
Jawaban
Sururiyah (pemahaman Surur) adalah Jamaah Hizbiyyah. Muncul pada tahun-tahun terakhir ini. Tidak dikenal kecuali pada seperempat akhir abad ini. Karena semenjak dahulu hingga sekarang, ia berselimut Salafiyyah.
Pada hakekatnya, Sururiyah memiliki prinsip-prinsip Ikhwanul Muslimin, bergerak secara sirriyah (sembunyi-sembunyi/rahasia). Merupakan pergerakkan politik, takfir, mencela dan menyindir para ulama Rabbaniyyin, seperti Imam-imam kita yang tiga: Bin Baaz, Al-Albani dan Utsaimin. Menuduh mereka sebagai ulama haidh dan nifas. Setelah perang Teluk II serangannya terhadap dakwah Salafiyyah secara terang-terangan, bertambah keras baik secara aqidah dan pemberitaan. Sampai menuduh para masyayikh dan ulama kita bahwa mereka tidak mengetahui waqi’ (situasi dan kondisi/kenyataan), ilmunya dalam perkara nifas dan wanita-wanita nifas. Mereka sesuai dengan ahli bid’ah zaman dahulu, yang mengatakan: Fiqh (Imam) Malik, Auzai dan lainnya tidak melewati celana perempuan.
Alangkah besar dosanya. Kalimat yang keluar dari mulut mereka.
Orang yang tidak menghormati para ulama, dia adalah para penyeru fitnah. Orang-orang yang merendahkan Al-Albani, Bin Baz dan Utsaimin di zaman kita, maka dia tenggelam (di dalam kesesatan), pembuat fitnah, dia berada di pinggir jurang yang dalam. Karena dia berkehendak memalingkan wajah manusia kepadanya dan menghalangi manusia dari para ulama dan imam mereka yang Rabbani.
Sehingga walaupun mereka mengaku beraqidah Salafiyyah, tetapi manhaj mereka Ikhwani. Bahkan (mungkin) mereka lebih berbahaya dari Ikhwanul Muslimin, karena mereka berbaju Salafiyyah.
Kita memohon kepada Allah Taala agar mereka diberi petunjuk menuju jalan yang lurus, dan agar kelak mereka bersama dengan Salafiyyah yang murni, yang para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para tabiin berada diatasnya. Wabillahi taufik
Tambahan Redaksi :
Sururiyah adalah nisbat kepada seseorang yang bernama Muhammad Surur bin Nayif Zainal Abidin. Dia pernah menjadi guru di Arab Saudi dalam waktu yang cukup lama, sehingga memungkinkan menjalankan rencananya dan menyebarkan racunnya di tengah-tengah para pemuda. Tetapi setelah nampak keburukan niatnya, dia pergi, lalu bermukim di kota London, Inggris, sebuah negara kafir.
Di antara kesesatan dan penyimpangan Muhammad Surur ini adalah:
1. Merendahkan Kitab-Kitab Aqidah Salafiyyah Dan Berlebihan Dengan Fiqhul Waqi.
Dia berkata di dalam bukunya, Manhajul Ambiya fi Dakwah Ila Allah I/8: “Aku memperhatikan kitab-kitab aqidah, maka aku lihat kitab-kitab itu ditulis bukan pada zaman kita. Sehingga kitab-kitab itu sebagai solusi berbagai permasalahan dan kemusykilan pada zaman ditulisnya kitab-kitab tersebut. Sedangkan pada zaman kita terdapat berbagai kemusykilan yang membutuhkan solusi yang baru. Kerena itulah model kitab-kitab aqidah itu sangat kering, karena hanya berisi nash-nash dan hokum-hukum. Karena inilah kebanyakan pemuda berpaling darinya dan tidak menyukainya”.
Perkataan orang ini tentulah sangat menyesatkan, karena kitab-kitab aqidah yang berisi nash-nash dan hukum-hukum merupakan kebenaran hakiki. Sedangkan berpaling darinya akan menjerumuskan kepada pendapat si Fulan dan Fulan yang tidak jelas kebenarannya.
2. Beraqidah Takfir bil Mashiyah, Yaitu Mengkafirkan Kaum Muslimin Dengan Sebab Maksiat.
Dia mengkafirkan para penguasa zhalim, sehingga dia banyak mencela para penguasa dan menerjuni medan politik ala Barat!
Dia berkata di dalam majalahnya yang terbit di London, majalah As-Sunnah no: 26, Jumadal Ula 1413H, hal: 2-3 [1] : Dizaman ini perbudakan memiliki tingkatan-tingkatan yang berbentuk piramida:
Tingkatan Pertama: 
Presiden Amerika Serikat, George Bush, duduk bersila di atas singgasananya, yang besok akan diganti Clinton.
Tingkatan Kedua:
Tingkatan penguasa negara-negara Arab. Mereka ini berkeyakinan bahwa kebaikan dan bahaya mereka di tangan Bush [2]. Oleh karena inilah mereka berhajji kepada (mengunjungi) nya, serta mempersembahkan nadzar-nadzar dan kurban-kurban [3]
Tingkatan Ketiga:
Para pengiring penguasa negara-negara arab, dari kalangan menteri, wakil menteri, komandan tentara, dan para penasehat. Mereka ini bersikap nifaq kepada tuan-tuan mereka, menghias-hiasi segala kebatilan dengan tanpa malu dan ahlaq.
Tingkatan Keempat, Kelima dan Keenam:
Para penjabat tinggi pada kementerian. Sesungguhnya perbudakan pada zaman dahulu sederhana, karena seorang budak memiliki seorang tuan secara langsung, tetapi sekarang perbudakan itu kompleks. Aku tidak habis fikir, tentang orang yang membicarakan tauhid, tetapi mereka adalah budak-budak, yang dimiliki oleh budak-budak, yang dimiliki oleh budak-budak, yang dimiliki oleh budak-budak, yang dimiliki oleh budak-budak. Tuan mereka yang akhir adalah seorang Nashrani [4].
Perkataan orang ini dengan jelas menunjukkan kesesatan dan kedustaan yang nyata!.
3. Juga Mengkafirkan Rakyat Karena Maksiat Yang Mereka Lakukan.
Dia berkata di dalam bukunya, Manhajul Ambiya Fi Dakwah ila Allah I/158: Tidaklah aneh jika problem laki-laki mendatangi laki-laki (homo seksual) merupakan permasalahan paling penting di dalam dakwah Nabi Luth Alaihissallam. Kerena seandainya kaumnya menyambut dakwahnya untuk beriman kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya, maka sambutan mereka itu tidak ada maknanya, jika mereka tidak meninggalkan kebiasaan keji yang telah mereka sepakati itu.
Itulah aqidah sesat Surur! Adapun aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah terhadap pelaku dosa besar telah mansyur, yaitu tidak keluar dari iman, tetapi imannya berkurang, dan dia dikhawatirkan terkena siksaaan Allah Taala.
4. Memusuhi Dan Mencela Para Ulama Ahlus Sunnah As-Salafiyyin.
Dia berkata di majalahnya yang terbit di London, Majalah As-Sunnah no. 23, Dzulhijjah-1412 H hal. 29-30: Dan jenis manusia yang lain [5] mengambil [6] dan mengikatkan sikap-sikap mereka dengan sikap para tuan mereka [7]. Maka jika sang tuan minta bantuan Amerika [8], para budak pun berlomba mengumpulkan dalil-dalil yang membolehkan perbuatan ini, dan mengingkari orang-orang yang menyelisihi mereka. Jika sang tuan berselisih dengan Iran Rafidhah, para budakpun membicarakan kebusukan Rafidhah. Dan jika perselisihan berhenti, para budakpun diam dan berhenti membagikan buku-buku yang diberikan kepada mereka. Jenis manusia ini: mereka berdusta, memata-matai, menulis laporan-laporan, dan melakukan segala sesuatu yang diminta oleh sang tuan kepada mereka. Mereka ini jumlahnya sedikit -al-hamdulillah-, mereka adalah orang-orang asing di dalam dakwah dan amal islami. Dokumen mereka telah terbongkar, walaupun mereka memanjangkan jenggot, memendekkan pakaian, dan menyangka sebagai penjaga sunnah. Adanya jenis manusia tersebut tidaklah membahayakan dakwah Islam. Kemunafikan sudah ada sejak dahulu.
Alangkah sesatnya perkataan ini, karena memperolok-olok sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dapat membawa kepada kekafiran! Membenci ulama Ahlus Sunnah adalah ciri utama Ahli Bidah!
Dan kesesatan-kesesatan lainnya.
Lihat:

1. Fitnah Takfir Wal Hakimiyah, hal: 93, Karya: Muhammad bin Abdullah Al-Husain.
2. Al-Ajwibah Al-Mufidah An As-ilah Al-Manhaji Al-Jiddah, Bagian Pertama hal. 45-48
3. Nazharat Fi Kitab Manhajul ambiya Fi Dakwah ila Allah, karya : Syaikh Ahmad Sallam.
4. Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Farifuuha, karya: Abu Ibrahim Ibnu Sulthan Al-Adnani
5. Al-Irhab, Karya: Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al-Makhdali.
6. Dan lain-lain.
Peringatan:
Sebagian orang menuduh kami (redaksi dan ustad-ustad Salaf lainnya ,-pen) sebagai sururi, yakni mengikuti pemahaman sesat Muhammad bin Surur, kemudian mereka memperingatkan kaum muslimin agar menjauhi kami.
Padahal sifat-sifat sururi tidak ada pada kami. Bahkan sifat-sifat itu banyak melekat pada orang-orang yang telah menuduh.
Maka disini kami nasehatkan dengan beberapa ayat dan hadits tentang bahaya menyakiti kaum muslimin, dan memfitnah mereka dengan perkara yang tidak ada pada mereka. Semoga Allah Taala memberikan petunjuk-Nya kepada mereka sehingga segera kembali ke jalan yang benar. Ingatlah bahwa seluruh perkataan pasti akan dicatat dan tidak akan dilupakan!
Allah Taala berfirman:
إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
(Yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu usapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir [Qaf : 17-18]
Ingatlah bahwa seluruh perkataan pasti dimintai pertanggung-jawaban!
Allah Taala berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya. [Al-Israa : 36]
Ketahuilah bahwa menyakiti orang-orang mumin dan muminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, merupakan kebohongan dan dosa yang nyata!
Allah Taala berfirman:
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا
Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mumin dan muminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. [Al-Ahzab :58]
Ketahuilah bahwa satu kalimat saja dapat menyebabkan seseorang terjerumus ke dalam neraka lebih jauh dari jarak antara timur dan barat!.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنْ الْعَبْدِ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهِا يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِ قِ وَالْمَغْرِبِ
Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dia fikirkan (baik atau buruknya) pada kalimat itu. Kalimat itu menyebabkan dia terjerumus ke dalam neraka lebih jauh dari timur dan barat. [HR. Bukhari, Muslim, dari Abu Hurairah].
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan bahaya tuduhan yang tidak benar dengan sabdanya:
لاَيَرْمِي رَجُلٌ رَجُلاً بِالْفُسُوقِ وَلاَ يَرْمِيهِ بِالْكُفْرِ إِلاَّ ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ إِنْ لَمْ يَكُنْ صَا حِبُهُ كَذَلِك
Tidaklah seseorang menuduh orang lain dengan kefasikan, dan tidaklah dia menuduh orang lain dengan kekafiran, kecuali tuduhan itu kembali kepadanya jika yang dituduh tidak seperti itu. [HR. Bukhari dari Abu Dzar].
Beliau juga memberitakan ancaman bagi orang yang membuat fitnah atas seorang mukmin dengan sabdanya:
وَمَنْ قَالَ فِي مُؤْمِنٍ مَا لَيْسَ فِيهِ أَسْكَنَهُ اللَّهُ رَدغَةَ الْخَبَالِ حَتَّى يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ
Barangsiapa berbicara tentang seorang mukmin apa yang tidak ada padanya, niscaya Allah tempatkan dia di dalam lumpur racun penghuni neraka sampai dia keluar dari apa yang telah dia ucapkan, dan dia tidaklah akan keluar! [HR. Abu Dawud, Ahmad, dan Baihaqi, dari Ibnu Umar, di shahihkan Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi di dalam Ruyah Waqiiyyah hal: 84]
Hendaklah saudara-saudaraku mengetahui, kalau hanya sekedar tuduhan, maka dengan sangat mudah setiap orang akan dapat melakukannya.
Tetapi hal itu bukanlah manhaj Salaf. Karena manhaj mereka adalah mengawasi apa saja yang muncul dari lisan, atau apa yang digerakkan oleh lisan, dan menegakkan hujjah terhadap setiap kalimat yang dibicarakan oleh bibir. Adapun melepaskan tuduhan-tuduhan, melepaskan istilah-istilah kasar, menyelinapkan prasangka-prasangka rusak, memunculkan gelar-gelar keji, semua itu merupakan kebatilan dan perkataan yang dusta.
Sesungguhnya Allah Taala mengetahui seluruh isi hati hamba-Nya terakhir, ingatlah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدَّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
Cukuplah seorang itu berdusta, jika dia menceritakan segala yang telah dia dengar. [HR. Muslim di dalam Muqaddimah dari Hafsh bin Ashim]
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun VI/1423H/2002. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

_______
Footnote
[1]. Tidak ada hubungan sama sekali dengan majalah As-Sunnah kita ini
[2]. Bagaimana dia bisa memastikan aqidah mereka seperti itu? Apakah dia telah membedah dada mereka? Atau mereka memberitahukan kepadanya? Maha suci Engkau wahai Allah, sesungguhnya hal ini merupakan kedustaan yang besar!-red
[3]. Perkataan ini merupakan pengkafiran secara nyata kepada Penguasa yang zhalim! -red
[4]. Alangkah keji dan lancangnya perkataan yang ditujukan kepada para ulama yang dimuliakan oleh Allah Taala ,-red
[5]. Yang dimaksudkan adalah para ulama Arab Saudi ,-red
[6]. Yakni mengambil bantuan resmi
[7]. Yang dimaksud dengan tuan mereka disini adalah para penguasa Arab Saudi
[8]. Dia membicarakan masalah permintaan tolong kepada Amerika pada waktu perang teluk-red
sumber : http://almanhaj.or.id/content/968/slash/0/siapakah-sururi/

Download audio siapakah sururi, bisa klik di link ini
Menjawab tuduhan sururi, bisa save as link ini
Videonya bisa dilihat dibawah ini

Radio Rodja Dalam Pandangan Para Ulama

By // Tidak ada komentar:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarkatuh.
Alhamdulillah, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah Shallallahu’ala ihi wa sallam, kepada keluarga beliau, sahabat beliau dan orang yang mengikuti beliau dengan baik sampai akhir zaman.

Amma ba’du :
Radio Rodja adalah Radio Dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Radio ini di isi oleh Ustadz – Ustadz yang berkompeten di bidang nya, dari lulusan Universitas Islam Madinah, lulusan LIPIA dan lain nya.
Radio ini telah memberikan manfaat yang luas terkhusus kaum muslimin yang sulit menjangkau majelis ilmu, mereka bisa belajar melalui radio ini. Dibalik keberhasilan ini, ada beberapa kelompok yang hasad terhadap Radio ini. Mereka hanyalah para pencela, yang berpakaian seolah-olah seperti Ulama, padahal akhlak mereka jauh dari akhlak Ulama.

Mereka dengan mudah menyebarkan fitnah, tuduhan dan cacian terhadap radio rodja. Sehingga banyak masyarakat umum bingung, dengan keadaan radio ini, akibat fitnah dan tuduhan keji yang mereka lontarkan. Semoga Allah memberi hidayah kepada mereka. Dan semoga Allah memperlihatkan yang benar itu benar, dan yang salah itu salah.

Mudah-mudahan artikel yang singkat ini yang berjudul “Radio Rodja Didalam Pandangan Ulama” yang kami tulis dari rekaman para Ulama yang pernah mengisi kajian di Radio Rodja. Semoga artikel ini bermanfaat bagi mereka, bagi kaum muslimin yang sedang bingung tentang keadaan radio ini, dan bagi penulis tentunya. Semoga menjadi amal kebaikan bagi kami. Aamiin.

Berikut perkataan para Ulama –semoga Allah menjaga mereka- :

Syaikh DR.Sulaiman bin Saliimullah ar-Ruhaily hafizhullah (Dosen Jurusan Ushul Fiqih Fak Syariah di Universitas Islam Madinah), didalam sambutan nya beliau berkata :
“Segalapuji bagi Allah yang telah menghalalkan yang baik-baik dan yang telah mengharamkan yang buruk-buruk. Dia pula yang melindungi kita dari hawa nafsu dan syahwat. Tidak ada Sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang menghidupkan dan yang mematikan dan kita juga bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu’ala ihi wa sallam yang datang kepada kita dengan membawa keterangan, bahwa beliau adalah seorang Rasul.
Kita mendapatkan bahwasanya sebagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala menyelamatkan kita dari segala macam hal-hal yang membinasakan kita dan bahwasanya kita juga berusaha memohon kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan nama Allah dan sifat Nya, sebagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala telah memalingkan kita dari segala macam hal-hal yang membuat Allah murka kepada kita. Maka kita pun berusaha untuk mencari hal-hal yang membuat Allah ridha. Maka sebagaimana juga kita mendengarkan kepada Radio ini, semoga Allah memberkahinya. Maka saya memohon, agar Allah Subhanahu wa ta’ala memalingkan dari segala macam keburukan.”

Diakhir kajian Syaikh berkata :
“Dan penutupan dari saya adalah bahwa saya bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, memuji Allah Subhanahu wa ta’ala diatas nikmat yang Allah berikan kepada kita ini. Demikian seperti hal nya Radio ini, yang begitu berusaha bersungguh-sung guh untuk menyebarkan kepada manusia kebaikan, bersungguh-sung guh untuk mengajak manusia kepada sunnah dan merealisasikan tauhid. Maka Aku mohon kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, agar Allah senantiasa membantu kita semua nya untuk selalu senantiasa meniti jalan yang Allah selalu bentangkan ini.”
[Rekaman Kajian Bahaya Fitnah Syahwat, Syaikh DR.Sulaiman bin Saliimullah ar-Ruhaily]

Syaikh Prof. DR.Muhammad bin Abdurrahman Al-Khumais hafizhullah (Guru Besar Aqidah pada Program Pasca Sarjana Universitas Islam Muhammad bin Su’ud di Riyadh-Saudi Arabia) diawal kajian beliau berkata :
“Amma ba’du : sesungguhnya ini adalah saat-saat yang diberkahi. Dimana aku bisa mengunjungi radio ini. Dan yang membuat aku bahagia juga, bahwa aku bisa mengunjungi negeri ini. Yang merupakan negeri islam yang paling besar. Kami memohon kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, agar Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan tambahan kepada penduduk negeri ini dengan kebaikan, keberkahan dan tambahan pengetahuan tentang ke islaman.
[Rekaman Kajian Syirik Pembatal Keislaman (Pembatal – Pembatal Keislaman Menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah), Syaikh Muhammad al-Khumais]

---oOo---

Syaikh DR.Sholeh Sa’ad as-Suhaimi hafizhullah (Dosen Fakultas Ushuluddin pada Program Pasca Sarjana Universitas Islam Madinah – Saudi Arabia dan Pengajar di Masjid Nabawi Madinah) diakhir kajian beliau berkata :
“Jazakallahu khairan, semoga Allah memberikan manfaat dengan radio ini kepada kaum muslimin dan kepada islam itu sendiri.”
[Rekaman Kajian Tujuh Golongan yang Mendapat Naungan, Syaikh DR.Sholeh Sa’ad as-Suhaimi]
---oOo---

Syaikh Prof. DR. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr (Guru Besar Aqidah di Universitas Islam Madinah dan Pengajar tetap di Masjid Nabawi) diawal kajian Syaikh berkata :
“Untuk mengamalkan hadits Nabi Shallallahu’ala ihi wa sallam : “Tidaklah seseorang itu bersyukur kepada Allah kalau tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia”
Terima kasih kepada al-akhi Fawwaz dan kawan – kawan yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk bisa mengisi kajian di radio rodja. Semoga Allah memberkahi mereka dan memberkahi orang-orang yang memudahkan acara ini.” [Rekaman Kajian Syarah Hadits Niat, Syaikh Prof.DR.Abdur Razzaq al-Badr]

Syaikh Abdurrazaq juga berkata didalam kajian Sebab-Sebab Datangnya Kebahagiaan di Masjid Istiqlal, beliau berkata didalam sambutan nya :

“Kaum muslimin sekalian, ini merupakan waktu yang penuh barakah. Kita berkumpul pada saat ini di masjid istiqlal, yang insya Allah, Allah berikan untuk masjid ini. Dan semoga Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan pahala dan ganjaran kepada pengurus masjid ini yang telah memberikan kesempatan bagi kita untuk berkumpul dalam rangka menuntut ilmu berkerjasama dengan radio rodja. Oleh karena itu semoga Allah Subhanahu wa ta’ala, memberkahi kru radio rodja dan pengurus masjid ini dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi taufik kepada kita semua.”

Pujian dan ucapan Syaikh Abdurrazzaq tentang radio rodja sangat banyak sekali. Silahkan dengar sendiri di rekam-rekaman kajian beliau, insya Allah akan ditemukan, pujian dan sanjungan Syaikh terhadap Radio Rodja, dan bahkan beliau rutin mengisi kajian di Radio Rodja, ini menunjukkan Radio ini berjalan diatas manhaj ahlus sunnah wal jama’ah, bukan seperti yang para pencela itu tuduhkan terhadap radio ini. Semoga Allah memberi hidayah kepada para pencela, dan menjaga kita dari perkataan mereka yang rusak dan tuduhan mereka yang kotor. Semoga Allah memperbaiki mereka dan memperbaiki orang seperti mereka.

Terakhir, semoga Allah merahmati mu, maka berhati-hatilah wahai saudara ku.
Semoga Allah menjaga kita semua dari fitnah dan tuduhan yang keji. Aamiin..

silahkan dishare dengan mengklik icon bawah / kiri tulisan ini. 

Ada apa dengan radio rodja dan rodja tv ?

By // Tidak ada komentar:

(Nasehat Syaikh Al-'Allaamah Sholeh Al-Fauzaan hafizohullah agar para dai ahlus sunnah bersatu)
Akhir-akhir ini semakin marak dan tersebar dakwah sunnah di tanah air – dengan semata-mata karunia dan anugrah Allah-, 

terlebih-lebih dengan kemudahan menangkap siaran Radio Rodja dan RodjaTV di seantero tanah air. Kita hanya bisa memuji Allah atas segalanya…sama sekali tidak ada andil kita dalam tersebarnya dakwah Sunnah…semuanya dari Allah…lisan dan kata-kata tidak mampu untuk mengungkapkan kegembiraan di hati sebagian orang atas masuknya dakwah sunnah sampai di daerah-daerah terpencil. 


Bahkan beberapa waktu yang lalu saya mendengar kegembiraan salah seorang mahasiswa Universitas Islam Madinah yang berasal dari Sulawesi Utara, yang menceritakan bahwa masyarakat di kampung kelahirannya sangat jauh dari agama. 


Jika ia pulang kampung dan hendak sholat di masjid kampung, maka ia harus membersihkan terlebih dahulu mesjid yang kotor dan penuh dengan kotoran kambing-kambing yang masuk ke dalam masjid. Masjid ditinggalkan masyarakat. Diapun yang mengumandangkan adzan, lalu yang mengumandangkan iqomat, dan dia hanya bisa sholat sendirian tanpa jama'ah. Dialah sang muadzin, sang imam, dan sang makmum??!!


Kepulangan terakhirnya di kampungnya membahwa kebahagiaan tersendiri, tatkala ia melihat masyarakat di kampungnya ternyata menonton RodjaTV…ternyata masjid mulai terisi menjadi bersaf-saf…sungguh kegembiraan yang sulit ia ungkapkan dengan kata-kata.
Kisah-kisah yang seperti ini banyak, diantaranya kisah seorang preman yang bertaubat karena Rodja TV, silahkan lihat http://edukasi.kompasiana.com/2012/10/24/preman-yang-taubat-nasuha-karena-stasiun-tv-498065.html, demikian juga pengakuan seorang dai, Al-Ustadz Ja'far Sholeh hafizohullah yang menyebutkan bahwa bibinya mengenal sunnah karena radio rodja. Beliau berkata : "Rodja besar sekali manfaatnya, khususnya di jabotabek dan sekitarnya, menembus setiap lapisan dari tukang ojek sampe istri pejabat, bibi ana juga dapat hidayah melalui Rodja. Jazahumullahukhairan" (lihat : http://www.facebook.com/siregardiapari/posts/135740426439096). 

Demikian pula saya sendiri pernah bertemu dengan seorang bekas pemain sinetron yang sadar karena Radio rodja. Saya juga bertemu dengan seorang sutradara yanga sadar, bahkan saya juga mengenal bos para preman di salah satu daerah Jadebotabek yang sadar karena Radio Rodja, bahkan –alhamdulillah- sekarang menjadi donatur tetap dakwah. Seseorang tatkala mendengar kisah-kisah yang seperti ini… …maka ia hanya bisa meneteskan air mata kegembiraan.

Tentu…RodjaTV atau Radio rodja hanyalah sebab…Allahlah yang membuka hati-hati mereka....

Namun akhir-akhir ini pula mulai muncul pernyataan-pernyataan kebencian terhadap RodjaTV dan Radio Rodja…

Jikalau para ahlul bid'ah semakin menunjukkan ketidaksukaannya dan kebencian bahkan permusuhan mereka -dan apa yang tersimpan dalam hati-hati mereka mungkin lebih parah-, maka ini adalah hal yang biasa dalam medan dakwah.

Akan tetapi yang menyedihkan jika kebencian dan permusuhan tersebut muncul dari sebagian dai yang dikenal sebagai dai ahlus sunnah ??!!!

Bahkan para ahlul bid'ah dengan serta merta segera mengupload bantahan dan tahdziran para da'i ahlus sunnah terhadap Rodja TV, perkataan para dai tersebut dijadikan dalil dan hujjah oleh musuh-musuh sunnah !!!

Kita hanya bisa menarik nafas panjang dan mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi rooji'uun…sungguh suatu musibah.

Sebelum saya lanjutkan, demi Allah tulisan ini bukan semata-mata untuk membela radio dan tv rodja, tetapi membela apa yang di dakwahkan oleh radio dan tv rodja dan yang semisal dengannya, yaitu berupa ajakan kepada mentauhidkan Allah Ta’ala, mendekatkan dengan sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan menjauhkan kaum muslim dari kesyirikan dan bid’ah



Diantara alasan/hujjah para sahabat kita yang mentahdzir Radio/TV Rodja adalah :

PERTAMA : Alasan/hujjah yang menarik dan sepertinya meyakinkan, akan tetapi sesungguhnya merupakan dalil yang sangat aneh.

Dalil tersebut adalah bahwasanya Radiorodja itu jangan cuma bisa menyampaikan rojaa' (harapan) saja, akan tetapi harus diseimbangkan dengan khouf (rasa takut), karena dakwah dan Islam itu dibangun diatas roja' dan khouf. Silahkan dengar di

Ini tentunya dalil sangat lucu, bisa ditinjau dari dua perkara :

Pertama : Rodja itu artinya bukan artinya rojaa' (berharap) akan tetapi singkatan dari RadiO Dakwah ahlus sunnah wal JAmaa'ah. Karenanya saya berhusnudzon bahwa sang ustadz yang berfatwa tentang sesatnya Radiorodja dan bahwasanya para pengisi di Radiorodja adalah para ahlul bid'ah, sang ustadz tersebut sedang bercanda. Tapi anehnya juga ia menukil fatwanya ini dari seorang Syaikh di Madinah. Tentu hal ini sangat aneh luar biasa.

Kedua : Tentunya kaidah yang terkenal bahwasanya yang menjadi penilaian bukanlah nama akan tetapi hakekat sesuatu. Riba dinamakan bunga atau faidah, akan tetapi nama tersebut tidak merubah hakekatnya sebagai riba yang merupakan dosa besar.

Demikian pula halnya, jika memang Radio Rodja artinya adalah Radio "Harapan", maka tentunya kalau seseorang hendak menyesatkan radio ini maka ia harus mengetahui hakekat radio ini, apa yang didakwahkan oleh radio ini. Jangan hanya menilai dari namanya saja. Apakah Radiorodja hanya mendakwahkan rojaa' (harapan) saja???.

Jika penilaian hanya berdasarkan nama, maka semua lembaga/yayasan/pondok, dll yang namanya "Rojaa", atau "Rahmat", atau "Bisyaaroh" dan nama-nama yang sejenis ini, akan dikatakan lembaga murji'ah !!!

 

KEDUA : Larangan Dai Untuk Muncul Di TV, karena video hukumnya haram

          Permasalahan haram dan tidaknya video adalah permasalahan khilafiyah. Dan kita sekarang tidak sedang membahas tentang khilaf ulama tentang permasalahan ini. Akan tetapi barang siapa yang mengharamkan rekaman video maka silahkan dia tidak berdakwah melalui sarana televisi. Akan tetapi hendaknya dia sadar bahwasanya banyak para ulama yang telah meninggal ataupun yang masih hidup saat ini yang membolehkan berdakwah di televisi bahkan memotivasi hal ini.

Sebuah pertanyaan pernah ditujukan kepada Syaikh Bin Baaz rahimahullah:
الاستفادة من وسائل الإعلام الحديثة وبخاصة التي فيها صور الاستفادة منها في مجال الدعوة إلى الله كثير من أهل العلم يتحرجون من استخدامها فهل لكم رأي في هذا الموضوع الذي يعتبر مهما في عصرنا هذا؟
"Banyak dari ulama yang berat untuk memanfaatkan sarana-sarana komunikasi modern, khususnya yang ada video-video, bila dimanfaatkan untuk lahan-lahan dakwah kepada Allah. Lalu bagaimana pendapat Anda tentang permasalahan ini, yang di zaman kita sekarang ini dipandang penting?
الجواب:

نعم هناك من يتحرج من أجل التصوير الذي يكون لأجل المشاركة في التلفاز ومن نشر العلم في التلفاز وهذا يختلف بحسب ما أعطى الله الناس من العلم والإدراك والبصيرة والنظر في العواقب.

فمن شرح الله صدره لذلك واتسع أفق علمه ليعمل في التلفاز ويبلغ رسالات الله فله أجره وله ثوابه عند الله ومن اشتبه عليه الأمر ولم ينشرح صدره لذلك فنرجو أن يكون معذوراً.
Benar, memang ada orang yang berat (memanfaatkan sarana-sarana tersebut), karena adanya rekaman video yang harus ada untuk partisipasi di televisi, dan menyebarkan ilmu dengan televisi. Hukum masalah ini akan berbeda (antara orang yang satu dengan yang lainnya), berdasarkan ilmu dan pandangan yang diberikan oleh Allah kepada masing-masing, serta pandangannya terhadap efek yang ditimbulkannya.

Barang siapa yang Allah lapangkan dadanya untuk ikut partisipasi, dan luas cakrawala ilmunya untuk berdakwah di televisi dan menyampaikan risalah-risalah Allah, maka baginya pahala dan ganjaran di sisi Allah. Namun bagi orang yang melihat perkara itu masih syubhat dan dadanya tidak lapang untuk berpartisipasi di televisi, maka kami harap ia mendapat udzur"

(Lihat kitab Liqoo'aatii ma'a as-Syaikhoini, karya Prof DR Abdullah bin Muhammad At-Thoyyaar, Terbitan Maktabah Ar-Rusyd, al-Qism al-Awwal, hal 80-81,  Liqoo ke 11, pertanyaan ke 3)

          Bahkan Syaikh Bin Baaz yang memotivasi untuk berdakwah di TV. Beliau pernah ditanya :

ما هي الطرق الناجحة لديكم للقيام بالدعوة إلى الله في هذا العصر؟

"Apakah metode-metode yang berhasil -menurut Anda-, untuk menegakkan dakwah ke jalan Allah di zaman sekarang ini?"

Beliau –rahimahullah- menjawab :
أنجح الطرق في هذا العصر وأنفعها استعمال وسائل الإعلام، لأنها ناجحة وهي سلاح ذو حدين. فإذا استعملت هذه الوسائل في الدعوة إلى الله وإرشاد الناس إلى ما جاء به الرسول صلى الله عليه وسلم من طريق الإذاعة والصحافة والتلفاز فهذا شيء كبير ينفع الله به الأمة أينما كانت، وينفع الله به غير المسلمين أيضاً حتى يفهموا الإسلام وحتى يعقلوه ويعرفوا محاسنه ويعرفوا أنه طريق النجاح في الدنيا والآخرة.
"Metode yang paling berhasil dan paling bermanfaat adalah memanfaatkan sarana-sarana komunikasi, karena sarana-sarana tersebut sukses, dan ia adalah senjata yang memiliki dua mata. Jika sarana-sarana tersebut digunakan untuk berdakwah di jalan Allah dan untuk mengarahkan masyarakat kepada ajaran Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, baik melalui radio, koran-koran, dan televisi, maka ini merupakan perkara agung yang Allah jadikan bermanfaat bagi umat ini dimanapun mereka berada.

(Bahkan) ia akan memberi manfaat kepada orang-orang non muslim, untuk memahami Agama Islam, memikirkannya, mengetahui keindahan-keindahannya, dan bahwa Islam adalah jalan keselamatan di dunia dan akhirat.
والواجب على الدعاة وعلى حكام المسلمين أن يساهموا في هذا بكل ما يستطيعون، من طريق الإذاعة، ومن طريق الصحافة، ومن طريق التلفاز ومن طريق الخطابة في المحافل، ومن طريق الخطابة في الجمعة وغير الجمعة، وغير ذلك من الطرق التي يمكن إيصال الحق بها إلى الناس وبجميع اللغات المستعملة حتى تصل الدعوة والنصيحة إلى جميع العالم بلغاتهم.
Dan wajib bagi para da'i dan para penguasa kaum muslimin untuk berpartisipasi dalam hal ini dengan seluruh kemampuan mereka, baik melalui sarana radio, koran-koran, dan televisi, serta melalui ceramah-ceramah,  baik di acara-acara pertemuan,  khutbah jum'at, maupun ceramah di selain khutbah jum'at.

Demikian juga metode-metode lainnya yang dapat menyampaikan kebenaran kepada seluruh umat, dan dengan semua bahasa yang digunakan, agar dakwah dan nasehat bisa sampai ke seluruh dunia dengan bahasa-bahasa mereka"  (silahkan lihat :http://www.binbaz.org.sa/mat/1678)

Syeikh Muhammad Nashiruddin al Albani berkata :
التلفزيون اليوم لا شك أنه حرام، لأن التلفزيون مثل الراديو والمسجل، هذه كغيرها من النعم التي أحاط الله بها عباده كما قال: {وإن تعدوا نعمة الله لا تحصوها}، فالسمع نعمة والبصر نعمة والشفتان نعمة واللسان، ولكن كثيرا من هذه النعم تصبح نقما على أصحابها لأنهم لم يستعملوها فيما أحب الله أن يستعملوها؛ فالراديو والتلفزيون والمسجل أعتبرها من النعم ولكن متى تكون من النعم؟ حينما توجه الوجهة النافعة للأمة.
التلفزيون اليوم بالمئة تسعة وتسعون فسق، خلاعة، فجور، أغاني محرمة، إلى آخره، بالمئة واحد يعرض أشياء قد يستفيد منه بعض الناس. فالعبرة بالغالب، فحينما توجد دولة مسلمة حقا وتضع مناهج علمية مفيدة للأمة حينئذ لا أقول : التلفزيون جائز، بل أقول واجب.
Jawaban beliau, “Tidaklah diragukan bahwa hukum menonton televisi pada masa kini adalah haram. Televisi itu seperti radio dan tape recorder. Benda-benda ini dan yang lainnya adalah di antara limpahan nikmat Allah kepada para hamba-Nya.

Sebagaimana firman Allah yang artinya, “Dan jika kalian menghitung nikmat Allah niscaya kalian tidak bisa menghitungnya”

Pendengaran adalah nikmat Allah. Penglihatan juga merupakan nikmat. Dua bibir dan lidah juga nikmat. Akan tetapi, banyak dari berbagai nikmat yang menjadi sumber bencana bagi orang yang mendapatkan nikmat tersebut karena mereka tidak mempergunakan nikmat dalam perkara yang Allah inginkan.

Radio, televisi dan tape recorder adalah nikmat ketika dipergunakan untuk perkara yang mendatangkan nikmat bagi umat. Isi televisi pada masa kini 99 persen adalah kefasikan, pornografi atau porno aksi, kemaksiatan, nyanyian yang haram dan seterusnya.

Sedangkan hanya 1% saja dari tontonannya yang bisa diambil manfaatnya oleh sebagian orang. Sedangkan kaedah mengatakan bahwa nilai sesuatu itu berdasarkan unsur dominan dalam sesuatu tersebut.

Ketika ada negara Islam yang sesunggunnya lalu negara membuat program acara TV yang ilmiah dan bermanfaat bagi umat maka –pada saat itu- kami tidak hanya mengatakan bahwa hukum menonton TV adalah boleh bahkan akan kami katakan bahwa menonton TVhukumnya wajib" (Silahkan lihat : http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=37470)

Beliau rahimahullah juga berkata :
لو أن القائمين على التلفاز لا يُخرجون فيه إلا الجائز شرعاً فلا أرى بأساً بجواز إدخاله في البيوت 
"Kalau seandainya pengurus televisi tidak menayangkan kecuali program yang dibolehkan oleh syari'at maka aku memandang tidak mengapa untuk memasukan televisi di rumah-rumah" (Lihat kitab Al-Imam Al-Albaani, duruus wa mawaaqif wa 'ibar, karya DR Abdul Aziz As-Sadhaan, hal 108, Daar At-Tauhid, kitabnya bisa didownload di disini)

Para ulama kibar yang masih hidup sekarangpun banyak yang berdakwah melalui sarana televisi. Diantaranya adalah Mufti Kerajaan Arab Saudi, Syaikh Abdul Aziz Aalu Syaikh hafizohulloh, beliau berdakwah di TV, dan bisa di searching di youtube. (Diantaranya dihttp://www.youtube.com/watch?v=hzFWY7XGP-k),

Syaikh Al-'Allaamah Sholeh Al-Fauzaan hafizohulloh, beliau juga berdakwah di TV, diantaranya silahkan lihat di

http://www.youtube.com/watch?v=V2mQv_2HdgU, lihat juga https://www.youtube.com/watch?v=vyRVoc1nyRM, lihat juga https://www.youtube.com/watch?v=QQtswcNhEas, dan masih banyak lagi, silahkan searching di youtube)



KETIGA : Radio rodja atau Rodja TV dipegang oleh para dai At-Turootsi.

Dalam alasan ini, akan banyak pertanyaan yang timbul:

Apakah maksudnya

(1) para dai yang mengisi di radio rodja menerima bantuan dari Yayasan Ihyaa' At-Turoots??, atau maksudnya

(2) para dai At-Turoots berada di atas manhaj Ihyaa At-Turoots?, ataukah maksudnya

(3) para dai tersebut tidak menyatakan bahwa yayasan Ihyaa At-Turoots sebagai yayasan bid'ah?, ataukah maksudnya

(4) para dai tersebut tidak membid'ahkan orang-orang yang menerima bantuan dari yayasan Ihyaa At-Turoots??

Permasalahan mengenai Ihyaa At-Turoots telah saya bahas dengan panjang lebar, diantara perkataan saya ((…Demikian juga tatkala kita menghadapi permasalahan mengambil dana dari yayasan Ihyaa At-Turoots. Karena inilah yang menjadi permasalahan utama, bukan masalah apakah yayasan Ihyaa At-Turoots ini hizbi atau tidak, karena mayoritas yang ditahdziir dan dikatakan sururi adalah orang-orang yang tidak mengambil dana sama sekali, akan tetapi kena getahnya terseret arus tahdzir gaya MLM, yaitu barang siapa yang tidak mentahdziir si fulan maka dia juga sururi??!!. Jika kita sepakat bahwasanya Ihyaa At-Turoots adalah yayasan hizbi maka apakah yang mengambil dana otomatis menjadi sururi?,inilah permasalahannya.!!. lantas apakah orang yang tidak mengambil dana akan tetapi tidak mentahdzir orang yang mengambil dana juga dihukumi dengan hukum yang sama yaitu sururi??!! Inilah permasalahan kita, tahdzir gaya MLM yang telah dilakukan oleh saudara-saudara kita…)) silahkan baca kembali (Salah Kaprah Tentang Hajr (Boikot) Terhadap Ahlul Bid'ah (Seri 6): Tahdziir dan Tabdii' Berantai Ala MLM (Awas Sururi!!))

Saya juga telah berkata ((Diantara mereka ada yang memvonis saudaranya Sururi, namun tatkala ditanya apakah yang dimaksud dengan Sururiyyah? Bagaimana ciri-cirinya? Maka ia terdiam seribu bahasa; atau ia berkata, “Pokoknya ia adalah Sururi sebagaimana kata ustadz Fulan….” Subhanallah, apakah demikian sikap seorang Ahlus Sunnah dalam membid’ahkan saudaranya tanpa dalil dan bayyinah? Hanya dengan taqlid buta? Bukankah kita mengenal manhaj Salaf karena lari dari taqlid? Lantas kenapa tatkala kita mengenal manhaj Salaf justru mempraktekan taqlid buta? Kalau taqlid dalam perkara hukum yang berkaitan dengan diri sendiri maka perkaranya masih ringan, namun taqlid dalam memvonis dan men-tabdi' orang lain, sementara terdapat hukum-hukum yang berat yang dibangun di balik vonis tersebut, maka perkaranya adalah besar. Apakah yang akan ia katakan di Akhirat kelak jika dimintai pertanggung jawaban oleh Allah? Bagaimana mungkin seseorang memvonis orang lain dengan perkataan yang ia sendiri tidak paham maknanya? Pantaskah seseorang mengatakan orang lain sebagai musyrik jika ia sendiri tidak memahami makna syirik? Pantaskah seseorang mengatakan saudaranya ahli bid'ah, sementara ia sendiri tidak paham makna bid’ah? Dikhawatirkan justru dialah yang merupakan ahli bid'ah dengan pembid'ahan ngawur yang dilakukannya. Pantaskah seseorang mengatakan saudaranya Sururi, padahal ia tidak paham makna Sururiyyah? Jangan-jangan ia sendiri yang terjatuh dalam praktek Sururiyyah sedangkan ia tidak menyadarinya. Yang sangat disesalkan demikianlah kenyataannya, ternyata sebagian mereka justru terjatuh dalam praktek Sururiyyah, seperti melakukan demonstrasi –yang mereka namakan "menampakkan kekuatan", tetapi substansinya sama saja-, mencela pemerintah di hadapan khalayak, dan lain-lain yang merupakan ciri-ciri Sururiyyah.)), silahkan baca di (Muwaazanah… Suatu Yang Merupakan Keharusan…? Iya, Dalam Menghukumi Seseorang Bukan Dalam Mentahdzir !!)

          Yang menyedihkan adalah sebagian mereka tidak malu-malu untuk berdusta, diantara tuduhan yang tersebar tentang radio rodja dan para dainya :

-         Radio rodja dibiyai oleh hizbiyun.

-         Radio rodja dibiyai oleh yayasan Ihyaa At-Turoots

-         Para dai di Radio rodja setiap bulannya menerima gaji dari luar negeri

Sungguh tuduhan-tuduhan tanpa bukti….kedustaan yang sangat memalukan yang muncul dari sebagian saudara-saudara kita.

Sebagian saudara-saudara kita yang mulia dengan mudahnya menjatuhkan Radio rodja dengan perkataan yang singkat tapi sangat pedas.

Diantaranya perkataan al-Ustadz Al-Faadil Dzulqornain hafizohulloh. Tentunya kami sangatlah gembira tatkala melihat perubahan Al-Ustadz Dzulqornain semenjak kepulangan beliau dari Arab Saudi, setelah menimba ilmu dari Al-'Allaamah Syaikh Sholeh Al-Fauzan, dimana al-Ustadz lebih banyak menjauh dari permasalahan-permasalahan tahdzir-tahdziran. Akan tetapi akhir-akhir ini –yang sangat menyedihkan- yaitu kami dikagetkan dengan pernyataan-pernyataan beliau yang cukup keras. Entah apa sebab yang menjadikan beliau hafizohulloh keras kembali?

Berikut pertanyaan yang ditujukan kepada beliau dan jawaban beliau hafizohulloh.

Tanya:
Bolehkah kita mendengarkan Radio atau melihat TV Rodja, yang mana mereka berdakwah mirip atau sama dengan Ahlussunnah??
Jawab:
"Saya tidak menasehatkan mendengarkan atau melihat TV Rodja, karena adanya orang-orang didalam radio ini, sebagian manhajnya tidak benar, dan sebagiannya tidak jelas, dan Alhamdulillah fasilitas untuk belajar agama sudah sangat banyak dimasa ini"

Silahkan dengar file suaranya di

Tentunya kita ingin mengetahui perincian dari sang ustadz,

Pertama : Siapa saja dai-dai yang menyimpang tersebut dan apa saja penyimpangan mereka?

Kedua : Siapa saja dai-dai yang tidak jelas manhajnya, dan apakah sebab ketidak jelasannya? 

Sang al-Ustadz al-Faadhil Hafizohulloh juga berfatwa tentang Yayasan Ihyaa At-Turoots. Berikut pertanyaan dan jawaban :

Tanya:
Ustadz ana punya majalah yang di kelola oleh dai-dai ihya At-Turats, tapi dalam masalah ekonomi saja. Bolehkah mengambil ilmu ekonomi dari mereka?

Jawab:
"Ini Masalah mengambil ilmu dari ahlul Bid'ah atau orang-orang yang mendukung  at-Turats, berada diatas pemikiran mereka, ini adalah dai-dai yang tidak berjalan diatas jalan Sunnah, maka tidak boleh seorang mengambil dari ilmu Sunnah dalam bidang apapun dari orang-orang yang tidak berada diatas sunnah, Bukan berartinya seluruh yang disebut ahlul Bid'ah itu pasti salah, tidak, tapi para Ulama Sepakat untuk memboikot ahlul bid'ah dan tidak menganjurkan manusia belajar, sebab mungkin saja ada hal-hal yang mereka masukkan disela-sela pembahasan mereka yang lain dianggap bagus.

Kemudian dari sisi yang kedua mengenai masalah ilmu ekonomi sekarang, semua orang ingin bicara masalah ekonomi, semuanya ngambil dari para ulama ahlussunnah, ngapain ngambil dari orang-orang yang bermasalah, ilmu apa saja ada dari kalangan para ulama ahlussunnah, ada diterangkan dan tidak perlu seseorang menjatuhkan dirinya kedalam bahaya"

Silahkan dengar file suaranya di :

Majalah yang dimaksud oleh penanya tentunya majalah yang sudah tersohor, yaitu majalah "Pengusaha Muslim". Apakah majalah tersebut dikelola oleh para dai Ihyaa At-Turoots??, tentunya ini sebuah kebohongan nyata di siang bolong. Majalah ini sama sekali tidak dibantu oleh yayasan Ihyaa At-Turoots, bahkan dibiayai oleh seorang sahabat saya, seorang pengusaha, yang tentu ia tidak ingin disebutkan namanya di sini. –semoga Allah menjaga keikhlasannya-

Sebuah pertanyaan pantas untuk diajukan kepada sang al-Ustadz al-Faadhil, bahwa para penyaji materi di majalah ini adalah para ahul bid'ah??, dimanakah letak bid'ah mereka??, sungguh berbahayakah menimba ilmu dari mereka??

Bukankah al-Ustadz Al-Fadil Dzulqornain hafizohulloh juga mengajarkan buku ahlul bid'ah?. Beliau telah mengajarkan buku al-waroqoot karya  Imamul Haramain Abul Ma’ali Al Juwaini. Padahal kita tahu bersama bahwasanya Al-Juwaini adalah salah seorang ulama besar madzhab Asyaa'iroh !!!

(lihat di http://aboeshafiyyah.wordpress.com/2012/11/21/rekaman-kitab-al-qawaidul-kulliyyah-dan-kitab-al-waraqat-al-ustadz-dzulqarnain/)

Untuk menjawab fatwa al-Ustadz al-Faadil hafizohulloh maka cukup saya menukil fatwa dari guru beliau Al-'Allamah Asy-Syaikh Sholeh Al-Fauzaan hafizohulloh (anggota Kibar Ulama/Ulama Besar Arab saudi dan juga anggota al-Lajnah ad-Daimah/dewan komite fatwa Arab Saudi), yang kebetulan saya bersama teman saya Doktor Hasan Ali dari Somalia sempat mengunjungi beliau di Daarul Iftaa' pada hari Senin 4 Februari 2013.

Berikut Transkrip tanya jawab antara kami dan Syaikh hafizohulloh:

Fatwa Syaikh Sholeh Al-Fauzaan hafizohulloh
الدكتور حسن: المشكلة عندنا شيخنا هناك في البلد -الصومال- جماعة تسمت بالاعتصام بالكتاب والسنة والقائمون عليها من طلاب الجامعة الإسلامية، وبعضهم من جامعة الإمام ينشرون العقيدة والتوحيد لكن يحصل منهم أحياناً التعصب لجماعتهم وكذا. وفي المقابل جماعة آخرى يقولون نحن ضد هذه الجماعات والحزبيات ويشددون عليهم ويبدعونهم بل ويبدعوننا نحن لماذا تتعاملون معهم!!!
Penanya (DR Hasan Somali) : "Syaikhuna, yang menjadi permasalahan pada kami, adalah di negeri kami -Somalia- ada sebuah jama'ah yang bernama 'Jamaa'ah Al-I'tishoom bil Kitaab was Sunnah'. Yang menjalankan jama'ah tersebut adalah para mahasiswa lulusan Universitas Islam Madinah, dan sebagiannya lagi lulusan Universitas Al-Imaam Muhammad bin Su'ud.

Jama'ah ini menyebarkan Sunnah dan Tauhid, hanya saja terkadang timbul dari mereka fanatik terhadap jama'ahnya. Selain mereka ada jama'ah lain yang mengatakan bahwa kami berlawanan dengan jama'ah-jama'ah dan kelompok-kelompok ini, mereka bersikap keras terhadap jama'ah (yang pertama) dan membid'ahkan mereka, bahkan mereka membid'ah kami, kenapa?, karena kami bermu'amalah dengan mereka (yakni 'Jamaa'ah Al-I'tishoom bil Kitaab was Sunnah')"
قال الشيخ: وهذه الآفة بين المسلمين
Syaikh Soleh al-Fauzaan berkata : "Ini adalah penyakit yang ada diantara kaum muslimin"
الدكتور حسن: فما موقفنا نحن كطلاب العلم إذا نزلنا إلى الساحة؟.
الشيخ: الموقف هو الإصلاح بين المسلمين. وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا، على كل الإصلاح، نحن كلنا مسلمون وكلنا هدفنا واحد فلماذا يعني الاختلاف, وعدونا متفق الآن خلونا نجتمع، خلونا على الكتاب والسنة.
Hasan : "Bagaimana sebaiknya sikap kami -sebagai penuntut ilmu-, jika kami terjun ke medan dakwah?

Syaikh berkata : "Sikap kalian adalah ishlaah (mendamaikan) diantara Kaum Muslimin. Allah berfirman (yang artinya):

"Jika ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang, hendaklah kamu damaikan antara keduanya". (QS Al-Hujuroot : 9)

Bagaimanapun juga (pilih jalan) perdamaian, kita semua adalah muslim, kita semua tujuannya sama, lantas mengapa kita berselisih? Sementara musuh-musuh kita sekarang bersatu?, Hendaknya kita bersatu, hendaknya kita di atas al-Qur'an dan as-Sunnah !!
الدكتور حسن: هم يقولون: الكتاب والسنة بس الاختلاف الآن الوحيد هل يجوز إنشاء -مثلاً- جماعة, تأسيس جماعة مثلا تدعوا إلى الكتاب والسنة بما أنه ليس هناك دولة أو حاكم يهتم بهذا هل يجوز هذا؟

الشيخ: حسب الاستطاعة .ولكن مثل ما قلت، ترى التخاذل والانقسام هو الذي يفرح العدو, اسعوا بالاصلاح بين المسلمين، بين المسلمين الذين يقولون نحن مسلمون،  أصلحوا بينكم خلوكم جماعة واحدة، وتعاونوا يكون لكم إن شاء الله دورا في بلدكم.
Hasan : "Mereka (Jama'ah al-I'tishoom) juga berpegang dengan Qur'an dan Sunnah, hanya saja satu-satunya perselisihan yang ada sekarang adalah "Apakah boleh mendirikan -misalnya- sebuah jama'ah yang menyeru kepada Qur'an dan Sunnah? Karena negara atau penguasa tidak memperhatikan urusan ini, apakah boleh (mendirikan jama'ah)?

Syaikh menjawab : "Itu sesuai kemampuan. Yang jelas sebagaimana yang aku katakan, kamu melihat sendiri adanya sikap saling meninggalkan dan berpecah belah, itulah yang membuat musuh gembira. Berusahalah untuk mendamaikan Kaum Muslimin, yakni mereka yang mengatakan kami muslim. Hendaknya kalian menjadi jama'ah yang satu, saling bekerja samalah kalian! Insyaa Allah hal ini akan menjadikan kalian bermanfaat bagi negeri kalian".
الدكتور حسن: مثل هذه الجماعة يا شيخ هل بيدع كونهم أسسوا جماعة؟

الشيخ: بينوا لهم بينوا لهم (كلمة غير واضحة) والله ما يصلح التبديع ولا التفسيق هذا ما يصلح بين المسلمين، كلنا مسلمون وإن كان بعضنا عنده قصور أو عنده خطأ, ما يمنع أنه أخونا نتعاون نحن وإياه.
Hasan : "Ya Syaikh, apakah Jama'ah seperti ini bisa dikatakan jama'ah bid'ah, karena telah mendirikan jama'ah?"

Syaikh berkata: "Jelaskan kepada mereka… Jelaskan kepada mereka… (kalimat tidak jelas)… Demi Allah, sikap tabdi' (membid'ahkan), dan tafsiiq (memfasikkan), tidaklah pantas dilakukan diantara Kaum Muslimin. Kita semua kaum muslimin, meskipun ada diantara kita yang memiliki kekurangan, atau memiliki kesalahan, maka itu tidak menghalanginya untuk tetap menjadi saudara kita, kita bisa bekerja sama dengan dia"
الدكتور حسن: هل يجوز أن نتعامل معهم في الدعوة إلى الله؟

الشيخ: ما هم مسلمين!!؟

الدكتور حسن: مسلمين بل ينقلون عن الشيخ محمد بن عبدالوهاب وابن تيمية وكتب العقيدة والطحاوية والواسطية.

الشيخ: مسلمون الحمد لله المسلم يقبل الخير، يقبل الحق.
Hasan : "Bolehkan kita bekerja sama dengan mereka ('Jamaa'ah Al-I'tishoom bil Kitaab was Sunnah') dalam rangka berdakwah di jalan Allah?"

Syaikh berkata: "Apakah mereka muslim?"

Hasan : "Mereka muslim, bahkan mereka biasa menukil dari Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab dan Ibnu Taimiiyah, begitu pula dari buku-buku aqidah, seperti At-Thohawiyah dan Al-Washithiyah"

Syaikh berkata : "Alhamdulillah mereka muslim, dan seorang muslim itu menerima kebaikan dan menerima kebenaran"
السائل : سؤال يتعلق بإندونيسيا، الحمد لله عندنا الآن قناتان تلفيزيونية على السنة، قبل السنة تقريباً، يشارك فيها الشيخ عبدالرزاق شيخي الشيخ العباد البدر، يلقي فيها كل الأسبوع مرتين

الشيخ : يروح إلى إندونيسيا؟

السائل : الشيخ عبد الرزاق ذهب إلى إندونيسيا مرتين، وكنت مترجما له في المرة الأولى، اجتمع تقريبا مائة ألف من الحاضرين، وللمرة الثانية تقريباً مائة وثلاثين ألف، وهذا أكبر تجمع في هذا المسجد له خمسة أدوار، يدل على الكثرة، وأن الناس الآن يعرفون السنة الحمد لله، والقناة لها دور كبير، وترجمنا أيضا مثلاً فتاواكم وفتاوى الشيخ ابن باز والشيخ العثيمين رحمهم الله.
Penanya (Firanda) : Pertanyaan berkaitan dengan Indonesia, Alhamdulillah sekarang kami memiliki dua stasiun televisi yang berada di atas Sunnah, sudah sekitar setahunan. Syaikh Abdur Rozzaq Al-Abbad Al-Badr -guru saya- juga berpartisipasi dalam stasiun televisi tersebut, dan memberi pengajian setiap pekan 2 kali.

Syaikh : Apakah syaikh Abdur Rozzaq selalu pergi ke Indonesia?

Firanda : Syaikh Abdur Rozzaq sudah dua kali pergi ke Indonesia, dan saya yang menjadi penerjemahnya saat kepergiannya yang pertama, dan yang hadir saat itu sekitar 100 ribu orang. Sedang pada kepergian beliau yang ke dua,  ada sekitar 130 ribu orang yang hadir. Dan ini merupakan perkumpulan terbesar di mesjid ini, mesjid ini punya 5 lantai. Ini adalah jumlah yang banyak, yang menunjukkan bahwa masyarakat sekarang mengenal sunnah, Alhamdulillah. Dan stasiun TV ini punya andil yang besar (dalam dakwah ini), kami terjemahkan fatwa-fatwa Anda, fatwa Syaikh Bin Baaz, dan fatwa Syaikh Utsaimin –rahimahumulloh-.
ولكن الإشكال عندنا تعرف أن الإخوة كما حصل في كل مكان ينقسم إلى قسمين، بعضهم يحذر من القناة

الشيخ : مصيبة هذه

السائل : فيه من يتكلم في نفس القناة، وفيه من يتكلم في الدعاة الذين يخرجون في القناة، مع أن قلنا فيه الشيخ عبد الرزاق والشيخ إبراهيم الرحيلي أيضا يشارك أحيانا

الشيخ : إبراهيم بن عامر؟

السائل : نعم، أحيانا يشارك. المشكلة، واحد من إخواننا يتكلم في القناة وهو مشهور بأنه من طلابك الشيخ

الشيخ : من هو؟

السائل : هو اسمه ذو القرنين

الشيخ : معروف

السائل : وهو رجل ما شاء الله عنده علم

الشيخ : رجل طيب
Akan tetapi yang menjadi permasalahan pada kami -sebagaimana Anda tahu-; bahwasanya ikhwan sekalian -sebagaimana terjadi di seluruh tempat- terpecah menjadi dua, dan sebagian mereka memperingatkan (masyarakat) dari bahaya Stasiun TV tersebut.

Syaikh : Ini merupakan musibah.

Firanda : Ada yang menjelekan stasiun TV tersebut, dan ada yang membicarakan (mentahdzir) para dai yang muncul di stasiun TV tersebut, padahal sebagaimana yang kami katakan, dalam stasiun tersebut ikut serta Syaikh Abdur Rozzaq, dan sesekali juga Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili.

Syaikh : Ibrahim bin 'Aamir?

Firanda : benar, sesekali beliau berpartisipasi (mengisi pengajian-pen). Yang jadi permasalahan, salah seorang dari saudara-saudara kami yang membicarakan (mentahdzir) stasiun TV tersebut, adalah orang yang terkenal sebagai murid Anda.

Syaikh : Siapa dia?

Firanda : Namanya Dzul Qornain.

Syaikh : Ma'ruuf (saya mengenalnya)

Firanda : Ia adalah seorang yang memiliki ilmu -masyaAllah-.

Syaikh : Ia seorang yang baik.
السائل : لكنه يتكلم في القناة ويحذر من مشاهدة القناة. نحن الآن ما نأخذ الدعم من أي جمعية ما نأخذ من جمعية إحياء التراث، ولا نأخذ من السعودية، المحسنين من إندونيسيا

الشيخ : تعاونوا مع ذي القرنين، هو رجل طيب وإن كان كما تقول أنه متشدد شوي

السائل : نحن ما نحذر منه

الدكتور حسن : القضية ليست معه، المسالة : هل يجوز مثلا خروج الداعية في القنوات؟ وتأسيس القناة الإسلامية تنشر الإسلام؟

الشيخ : ما معنا وسيلة غيرها

حسن : يستفاد منها

الشيخ : أي نعم، يستفاد منها

السائل : مثل هذا، الشيخ، ما نفعل بزميلنا هذا

الشيخ :أصلحوه واستصلحوا وتألفوا

حسن : بينوا له يكلم الشيخ صالح في الموضوع مثلاً

الشيخ : يكتب لي يكتب لي وأنا أرد عليه
Firanda : "Akan tetapi ia (Dzulqornain) membicarakan tentang (keburukan) Stasiun TV tersebut, dan memperingatkan masyarakat dari menonton stasiun TV tersebut.

Kami sekarang tidak mengambil bantuan dari yayasan manapun, kami tidak mengambil bantuan dari Yayasan Ihyaa Ut Turoots, dan kami pun tidak mengambil bantuan dari Arab Saudi, para donaturnya dari Indonesia"

Syaikh : "Bekerja-samalah dengan Dzulqornan, ia adalah orang yang baik, meskipun dia agak keras -sebagaimana kau katakan- "

Firanda : "Kami tidak mentahdzirnya"

Hasan : Permasalahannya bukanlah tentang dia, akan tetapi bolehkah -misalnya- seorang dai berdakwah melalui stasiun-stasiun televisi? Bolehkan mendirikan Stasiun Televisi Islami yang menyebarkan Islam?

Syaikh : Kita tidak punya sarana yang lain

Hasan : Sarana televisi itu boleh dimanfaatkan?

Syaikh :  Iya, sarana televisi itu boleh dimanfaatkan.

Firanda : Ya Syeikh, pada kondisi demikian, apa yang harus kami lakukan terhadap sahabat kami ini (Dzulqornain)?

Syaikh : Berdamailah dengannya… Saling berdamailah dan saling bersatulah.

Hasan : Sampaikan kepada Dzulqornain, agar ia berbicara dengan Syaikh tentang permasalahan ini.

Syaikh : Hendaknya ia (Dzulqornain) menulis surat kepadaku, hendaknya ia menulis kepadaku, dan aku akan membalas suratnya.
السائل : مسألة جمعية إحياء التراث دائما إلى الآن سبب الخلاف بين الإخوة، مسالة جمعية إحياء التراث بالكويت

الشيخ : بالكويت، أيش فيها؟

السائل :  فيه ناس قليل تعاونوا مع هذه الجمعية، أخذوا المساعدة من الجمعية، لكن غالبنا ما ياخذون. المشكلة ذو القرنين وأصحابه يحذرون من الجمعية ويبدعون الجمعية

الشيخ : أي جمعية؟

حسن : جمعية إحياء التراث بالكويت

الشيخ : الذي يساعدكم خذوا مساعدته وانتفعوا به

السائل : المشكلة الذين لا يتكلمون في الجمعية أيضا يبدعون

الشيخ : الرسول صلى الله عليه وسلم قبل الهدايا من الكفار، قبل من المقوقس، يقبل يقبل الهدية، الذي يعينكم خذوا

السائل : سيقولون سيشترطون وكذا ويوجهون في الدعوة

الشيخ : على كل حال تعاونوا، يقضى على قضية الانقسام يقضى عليه

السائل : يعني أكلم الشيخ ذو القرنين يراسلك

الشيخ : أي نعم

السائل : الله يبارك فيك
Firanda : "Permasalahan Yayasan Ihyaa At-Turoots, selalu menjadi sebab khilaf diantara ikhwan hingga sekarang, (maksudku) permasalahan Yayasan Ihyaa At-Turoots yang di Kuwait"

Syaikh : Yang ada di Kuwait? Ada apa dengan yayasan tersebut?

Firanda : Ada sedikit orang yang bekerja sama dengan yayasan ini, mereka mengambil bantuan dari yayasan ini, akan tetapi mayoritas kami tidak mengambil bantuan. Yang menjadi permasalahan adalah Dzulqornain dan para sahabatnya mentahdzir yayasan itu dan membid'ahkannya.

Syaikh : Yayasan apa?

Hasan : Yayasan Ihyaa At-Turoots dari Kuwait

Syaikh : "Yang membantu kalian, ambillah bantuannya dan manfaatkan bantuan tersebut"

Firanda : Yang menjadi permasalahan; orang-orang yang tidak mentahdzir yayasan itu juga di-tabdi'

Syaikh : Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah menerima hadiah-hadiah dari orang-orang kafir, beliau menerima dari Raja Muqouqis, beliau menerima hadiah. Yang membantu kalian, maka ambillah (bantuannya)"

Firanda : Mereka akan berkata; "Yayasan akan memberi persyaratan… Akan ikut mengatur dakwah?"

Syaikh : "Bagaimanapun juga, hendaknya kalian saling bekerja sama, hilangkan perpecahan, hilangkanlah perpecahan"

Firanda : "Apa saya menyampaikan ke Syaikh Dzulqornain, agar mengirim surat kepada Anda?"

Syaikh : Iya

Firanda : Baarokallahu fiik"

(Demikian tanya jawab yang berlangsung antara kami dan al-'Allaamah Asy-Syaikh Sholeh Al-Fauzan hafizohulloh pada pagi hari senin tanggal 4 Februari 2013 di kantor kerja beliau di Daarul Iftaa') silahkan dengar rekamannya disini:

Mengingat kedekatan Al-Ustadz Al-Fadil Dzulqornain dengan Asy-Syaikh Sholeh Al-Fauzan maka kami sangat berharap Al-Ustadz Al-Faadil Dzulqornain mau bertanya langsung kepada Asy-Syaikh Sholeh Fauzan perihal berikut ini :

-         Apakah Yayasan Ihyaa At-Turoots Al-Kuwaiti adalah yayasan hizbi dan yayasan mubtadi'ah?. Dan kalau Asy-Syaikh tidak mengetahui hakekat kesesatan Yayasan Ihyaa At-Turoots maka hendaknya Al-Ustadz Al-Fadil menjelaskan kepada beliau agar tidak ada tuduhan bahwasanya Asy-Syaikh berfatwa tanpa ilmu, memuji Ihyaa At-Turots karena Asy-Syaikh jahil tentang yayasan tersebut

-         Jika Ternyata Asy-Syaikh menyatakan yayasan tersebut adalah yayasan Ahlus Sunnah maka selesailah perkaranya, dan tidak perlu kita beranjak kepada pertanyaan-pertanyaan berikutnya. Akan tetapi jika Asy-Syaikh menyatakan bahwa yayasan tersebut adalah yayasan bid'ah atau yayasan sururi, maka tolong tanyakan lagi apakah boleh menerima bantuan dari yayasan tersebut?. Atau apakah yang menerima bantuan dana dari yayasan tersebut otomatis menjadi ahlul bid'ah, menjadi sururi??

-         Jika ternyata Asy-Syaikh membolehkan mengambil bantuan dana, maka selesailah perkaranya. Akan tetapi jika Asy-Syaikh mengharamkan mengambil bantuan dana dari yayasan dan menyatakan bahwa yang mengambil dana otomatis menjadi ahlul bid'ah, maka tanyakanlah kepada beliau apakah apakah yang tidak membid'ahkan yayasan juga otomatis menjadi sururi?, yang tidak membid'ahkan yang mengambil dana juga otomatis jadi sururi?

Tolong pertanyaan dan jawaban di transkrip secara lengkap, dan jangan jawabannya saja. Dan kami sangat menantikan hal ini, karena jangan sampai seperti sikap salah seorang dari sebagian antum yang telah bertanya panjang lebar kepada Asy-Syaikh al-'Utsaimin rahimahullah tentang hukum jihad di Ambon lantas pertanyaan dan fatwa Asy-Syaikh disembunyikan dan tidak disebarkan !!!

 
RENUNGAN….

Beikut ini beberapa renungan yang saya tujukan kepada saudara-saudaraku terkhususkan para kawan-kawan yang suka mentahdzir sesama ahlu sunnah hanya karena permasalahan ijtihadiyyah



PERTAMA : Renungkanlah kembali sikap-sikap keras antum selama ini. Ya ikhwati… apakah demikian manhaj yang diajarkan oleh para ulama salafiyin yang telah diakui oleh semua pihak. Dalam hal ini terutama Syaikh Bin Baaz, Syaikh al-Utsaimin, dan Syaikh Al-Albani rahimahullah???

Apakah dakwah mereka seperti cara dakwah kalian??, adakah ceramah-ceramah mereka dan buku-buku mereka seperti gaya ceramah antum saat ini??. Saya mengajak kita bersama untuk bersikap jujur…

Tidak mengapa jika antum menyelisihi metode dakwah mereka bertiga, tidak mengapa juga antum merasa dan meyakini bahwa manhaj yang antum jalani adalah manhaj yang terbenar…, akan tetapi harus diakui bahwasanya metode dakwah mereka ternyata berbeda dengan metode dakwah kalian



KEDUA : Semua orang tahu, bahwasanya "Gaya seorang guru bisa dilihat dari gaya murid-muridnya".

Ternyata yang ada, metode dakwah dari mayoritas murid-murid ketiga ulama besar tersebut, berbeda metode dakwah mereka dengan metode dakwah kalian. Bahkan antum menganggap banyak murid-murid senior ketiga para ulama tersebut adalah ahul bid'ah. Murid-murid senior Syaikh Al-Albani rahimahullah tidak selamat dari tahdziran dan lisan kalian…Terlebih lagi murid-murid syaikh Al-Utsaimin yang ada di kota al-Qosiim ??!!!



KETIGA : Saya juga ingin tahu, sebenarnya ulama/masyaikh salafy yang antum akui -sama diatas gaya dan metode antum dalam hal tahdzir dan tabdi'- yang ada di kerajaan Arab Saudi itu ada berapa?. Coba kita hitung…, (1) Syaikh Robii' Al-Madkholi, (2) Syaikh Muhammad bin Haadi Al-Madkholi, (3) Syaikh Ubaid Al-Jaabiri, (4) Syaikh Abdullah Al-Bukhari, (5) Syaikh Ahmad Bazmuul….hafizohumulloh

Apakah masih ada para ulama atau masyaikh yang lain??, kalau ada berapakah jumlah mereka??, saya berbicara tentang masyaikh yang ma'ruf dan tersohor di Kerajaan Arab Saudi. Meskipun Asy-Syaikh Abdullah al-Bukhari dan Asy-Syaikh Ahmad Bazmuul tidak ma'ruf, akan tetapi tetap saya masukan karena keduanya dijadikan rujukan oleh kalian.

Nah sekarang apakah anggota kibar ulamaa, dan juga anggota lajnah daimah yang lainnya juga adalah salafy menurut kalian? Semanhaj dengan manhaj kalian?, saya ingin kejujuran antum!!!. Syaikh salafy yang ada di Riyadh ada berapa sih??

Apakah hanya syaikh Sholeh al-Fauzaan?? Itupun ternyata manhaj dan metode beliau tidak sama dengan manhaj kalian…

Demian pula, manakah para Imam Masjid Nabawi dan Masjid Haram yang menurut antum salafy (selain Syaikh Al-Hudzaifi hafizohullah)?. Demikian juga manakah dari dari pengajar-pengajar resmi di Masjid Nabawi yang antum anggap salafy 100 persen seperti antum selain Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad??, itupun Syaikh Abdul Muhsin manhajnya tidak sama dengan manhaj guluw antum dalam mentahdzir dan mentabdi'. Ini mau tidak mau harus diakui.

Puluhan ulama di Riyaad, puluhan ulama di Madinah, apakah manhaj dan metode dakwah mereka seperti metode dakwah kalian??

Tidaklah mengapa jika antum berkata, "Kebenaran tidak diukur dengan jumlah yang banyak…". Saya hanya sekedar ingin agar antum mengakui bahwasanya manhaj antum tidak sama dengan manhaj Syaikh Bin Baaz, Syaikh Al-Utsaimin, Syaikh Al-Albani dan juga kebanyakan para ulama dan masyayikh di Arab Saudi. Maksud saya dalam hal ini adalah manhaj guluw dalam mentahdzir dan mentabdi' sesama dai ahlus sunnah.



KEEMPAT : Ternyata setelah saya dengarkan hujatan-hujatan antum terhadap radiorodja atau rodja TV yang ada bukanlah menyebutkan kesalahan…, akan tetapi hanya karena link-link (kerja sama) serta hubungan-hubungan dengan orang-orang yang dianggap sebagai ahlul bid'ah, yang kebanyakan link-link tersebut hanyalah dugaan dan prasangka. Jika ada link-link tersebut maka kami ingin buktinya, maka tolong sebutkan link-link para ustadz Radiorodja !!

          Sebenarnya hukum bermu'amalah dengan ahlul bid'ah sudah dijelaskan panjang lebar oleh para ulama, diantaranya dijelaskan panjang lebar oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qoyyim rahimahumallahu. Demikian pula masalah hajr (memboikot) ahlul bid'ah yaitu dengan melihat dan menimbang antara maslahat dan mudhorot (silahkan baca kembali (Salah Kaprah Tentang Hajr (Boikot) terhadap Ahlul Bid'ah (Seri 2): Hajr Bukan Merupakan Ghoyah (Tujuan), Akan Tetapi Merupakan Wasilah)



Bahkan terkadang bekerja sama dengan ahlul bid'ah dianjurkan jika memang mendatangkan kemaslahatan

Ibnul Qoyyim rahimahulloh -tatkala menjelaskan faedah dari kisah perjanjian hudaibiyah-, mengatakan:
أن المُشْرِكين، وأهلَ البِدَع والفجور، والبُغَاة والظَّلَمة، إذا طَلَبُوا أمراً يُعَظِّمُونَ فيه حُرمةً مِن حُرُماتِ الله تعالى، أُجيبُوا إليه وأُعطوه، وأُعينوا عليه، وإن مُنِعوا غيره، فيُعاوَنون على ما فيه تعظيم حرمات الله تعالى، لا على كفرهم وبَغيهم، ويُمنعون مما سوى ذلك، فكُلُّ مَن التمس المعاونةَ على محبوب للهِ تعالى مُرْضٍ له، أُجيبَ إلى ذلك كائِناً مَن كان، ما لم يترتَّب على إعانته على ذلك المحبوبِ مبغوضٌ للهِ أعظمُ منه، وهذا مِن أدقِّ المواضع وأصعبِهَا، وأشقِّهَا على النفوس
"Sesungguhnya kaum musyrikin, ahlul bid'ah, dan ahlul fujur, serta para pemberontak dan orang-orang yang zholim, jika mereka menuntut sesuatu untuk mengagungkan salah satu dari syari'at-syari'at Allah, maka permintaan mereka itu dipenuhi dan ditunaikan, serta mereka dibantu, meskipun pada perkara-perkara lain (yang tidak merupakan syari'at Allah-pen) mereka tidak dipenuhi permintaannya. Jelasnya mereka dibantu pada perkara-perkara yang padanya ada pengagungan terhadap syari'at Allah, bukan ditolong dalam kekufuran dan kezoliman mereka, dan tidak dibantu pada perkara-perkara yang lain.

Maka setiap orang yang meminta pertolongan dalam perkara yang dicintai oleh Allah dan mendatangkan keridoannya maka permohonan bantuannya boleh dipenuhi siapapun orangnya. Selama tidak menimbulkan perkara yang dibenci oleh Allah yang lebih parah. Ini termasuk pembahasan yang paling detail, paling sulit, dan paling berat bagi jiwa" (Zaadul Ma'aad 3/303)

Diantara dalil yang menunjukan perkataan Ibnul Qoyyim ini adalah :

Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam :
وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لا يَسْأَلُونِى خُطَّةً يُعَظِّمُونَ فِيهَا حُرُمَاتِ اللَّهِ إِلا أَعْطَيْتُهُمْ إِيَّاهَا
"Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, tidaklah mereka (kaum musyrikin Arab) meminta kepadaku sesuatu kondisi yang padanya mereka mengagungkan syari'at Allah, kecuali aku akan memberikannya kepada mereka" (HR Al-Bukhari no 2731)

Ini jelas, bahwasanya jika Kaum Musyrikin meminta bantuan Nabi untuk menegakkan hak dan syari'at Allah, maka Nabi akan memenuhi permintaan mereka.

Dalam Hilful Fudhul/Al-Muthoyyabin, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda ;
مَا شهدتُ مِنْ حلف قُرَيْش إِلَّا حِلف المطيبين ، وَمَا أحب أَن لي حمر النعم ، وَإِنِّي كنت نقضته
"Aku tidak pernah menghadiri hilf (perjanjian kesepakatan) kaum Quraisy kecuali Hilful Muthoyyabin, dan aku tidak suka jika aku membatalkannya meskipun aku diberi onta merah" (Lihat takhriif hadits ini dalam Al-Badr Al-Muniir, karya Ibnul Mulaqqin 7/325-327).

Perjanjian ini adalah perjanjian yang dilakukan oleh orang-orang Kafir Quraisy dalam rangka untuk menolong seorang yang terzolimi, agar haknya dikembalikan dari orang yang telah menzoliminya. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menghadirinya tatkala beliau belum diangkat menjadi seorang Nabi. Akan tetapi Nabi shallallahu 'alaihi mengenang perjanjian ini, bahkan beliau menyatakan jika beliau diajak oleh mereka dan beliau sudah menjadi seorang Nabi, maka beliau tetap akan menghadirinya.

Beliau berkata :
لقد شهدتُ فِي دَار عبد الله بن جدعَان حلفا ، لَو دُعِيْتُ بِهِ فِي الْإِسْلَام لَأَجَبْت
"Sungguh aku telah menghadiri Hilf (Al-Muthoyyabin) di rumah Abdullah bin Jad'aan. Kalau seandainya aku diajak saat sudah ada Islam (yakni setelah aku menjadi Nabi-pen), maka aku akan penuhi ajakan tersebut" (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam shahih fiqh Shiroh, lihat juga penjelasan al-'Umari dalam Shirah An-Nabawiyah As-Shahihah 1/111)

Kedua hadits ini menegaskan pernyataan Ibnul Qoyiim rahimahullah, akan bolehnya bekerja sama/membantu orang-orang yang menyimpang jika tujuannya untuk menegakkan syari'at Allah atau kebenaran. Dengan syarat tidak menimbulkan kemudorotan.

Sekarang marilah kita melihat link-link (kerja sama dengan ahlul bid'ah) yang dilakukan oleh para ulama dan para syaikh salafy, diantaranya :

(1) Bukankah sangat banyak ulama salafy yang memiliki link dengan yayasan Ihyaa At-Turoots di Kuwait. Seperti Syaikh Bin Baaz, Syaikh Utsaimin rahimahumulloh, Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad, dan Syaikh Abdurrozzaq??

Bahkan sebagian mereka mengisi pengajian di yayasan Ihyaa At-Turoots. Lantas apakah mereka ahlul bid'ah??, apakah mereka sururi??. Apalagi sampai memuji yayasan??!!. Bukankah sikap mereka ini "menurut kacamata kalian" menyesatkan umat karena menjalin link dengan yayasan Ihyaa At-Turoots??. Kalau hanya seorang dai tingkat nasional yang berhubungan dengan yayasan Ihyaa At-Turoots sih masih mending, akan tetapi sangatlah berbahaya dan parah kalau yang berhubungan dengan yayasan tersebut para ulama kaliber dunia…sungguh sangat menyesatkan umat "menurut kacamata kalian" (Lihat pujian para ulama Asy-Syaikh Bin Baaz rahimahullah, Asy-Syaikh Utsaimin rahimahullah, Asy-Syaikh Sholeh Al-Fauzan, Asy-Syaikh Al-Mufti Abdul Aziz Alu Syaikh, Mentri Agama Arab Saudi Asy-Syaikh Sholeh Alu Syaikh, dan Imam Al-Masjid Al-Haroom Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sudais hafzohumulloh dihttp://www.turathkw.com/topics/current/index.php?cat_id=13)

Al-'Allaamah Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al-'Abbad hafizohulloh berkata tentang peran serta Asy-Syaikh Bin Baaz dan Asy-Syaikh Al-'Utsaimin dalam mengisi kajian di yayasan Ihyaa' At-Turoots. Beliau berkata :
من أهل السنة في هذا العصر من يكون ديدنه وشغله الشاغل تتبع الأخطاء والبحث عنها، سواء كانت في المؤلفات أو الأشرطة، ثم التحذير ممن حصل منه شيءٌ من هذه الأخطاء، ومن هذه الأخطاء التي يُجرح بها الشخص ويحذر منه بسببها تعاونه مثلاً مع إحدى الجمعيات بإلقاء المحاضرات أو المشاركة في الندوات، وهذه الجمعية قد كان الشيخ عبد العزيز بن باز والشيخ محمد بن عثيمين رحمهما الله يُلقيان عليها المحاضرات عن طريق الهاتف، ويعاب عليها دخولها في أمر قد أفتاها به هذان العالمان الجليلان، واتهام المرء رأيه أولى من اتهامه رأي غيره، ولا سيما إذا كان رأياً أفتى به كبار العلماء
"Diantara ahlus sunnah di zaman ini ada yang kesibukannya -yang selalu menyibukannya- adalah mencari-cari kesalahan, apakah kesalahan-kesalahan yang ada di buku-buku ataupun yang di kaset-kaset. Setelah itu mentahdzir masyarakat akan bahaya orang yang terjerumus dalam sebagian kesalahan-kesalahan tersebut. Dan diantara kesalahan-kesalahan yang menyebabkan seseorang ditahdzir dan dijarh adalah orang tersebut bekerja sama dengan salah satu yayasan yaitu dengan mengisi pengajian atau ikut serta dalam seminar. Padahal yayasan tersebut dahulu Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz dan Asy-Syaikh Muhammad bin Utsaimin rahimahumallahu mengisi pengajian-pengajian melalui telepon. Demikian juga yayasan ini dicela karena ikut serta dalam suatu perkara yang kedua orang alim yang mulia ini berfatwa akan kebolehannya. Dan seseorang mencela pendapatnya sendiri lebih layak daripada mencela pendapat orang lain, terlebih lagi jika pendapat lain tersebut adalah pendapat yang difatwakan oleh para ulama kibar" (Silahkan baca kitab Rifqon Ahlas Sunnah hal 16)

(2) Syaikh Bin Baaz rahimahullah mendirikan lembaga Roobitoh al-'AAlam al-Islaami. Sekarang kalau mau jujur, bukankah lembaga ini beranggotakan banyak dai dari seantero dunia?, lantas apakah semua anggotanya salafy??. Jawabannya : Tentu tidak, justru sebagian kecil saja yang bermanhaj salafy "menurut kacamata kalian", itupun kalau ada??!!. Jika perkaranya demikian, lantas buat apa syaikh Bin Baaz mengumpulkan mereka?, bahkan memfasilitasi mereka???. Apakah syaikh bin Baaz tidak faham manhaj salafy???. Lembaga ini hingga saat ini masih eksis di Arab Saudi, lantas kenapa ia selamat dari tahdziran-tahdziran antum sekalian??

(3) Lembaga al-Majma' Al-Fiqhi Al-Islaami (Komite Fikih Islam), yang beranggotakan banyak ulama dari berbagai negara-negara Islam. Ini adalah lembaga resmi. Lantas apakah seluruh para ulama tersebut bermanhaj salaf "ala salafy kalian"?. Tentu berdasarkan kacamata "salafy" kalian, kebanyakan mereka adalah ahul bid'ah, dan saya tidak tahu apakah ada satu saja yang salafy menurut kacamata kalian??. Lantas kenapa lembaga ini selamat dari tadhziran kalian??

(4) Bukankah Syaikh Muhammad bin Hadi, dan Syaikh Abdullah Al-Bukhari hafizohumallahu mengajar di Universitas Islam Madinah?. Beliau berdua berasal dari fakultas hadits. Coba antum tanyakan kepada mereka berdua, "Siapakah masyaikh salafy yang ada di Universitas Islam Madinah??" berapakah jumlahnya selain mereka berdua??'. Di fakultas hadits sendiri, siapakah syaikh salafy selain mereka berdua??.

Lantas buktinya mereka berdua masih tetap saja bisa satu fakultas dengan dosen-dosen yang bukan salafy (dalam kacamata kalian). Jika ternyata syaikh salafy di Universitas Islam Madinah hanya 3 atau 4 orang (dalam kacamata salafy kalian), lantas kenapa kedua syaikh ini masih betah mengajar di Universitas Islam Madinah??!!!

(5) Kerajaan Arab Saudi -melalui kementrian agama Arab Saudi- memberikan gaji bulanan kepada para dai-dai di seluruh dunia. Diantaranya dai-dai yang ada di Indonesia. Ternyata dai-dai tersebut kebanyakannya bukan dai salafy. Lantas apakah kementerian ini merupakan lembaga hizbi karena memfasilitasi para dai hizbi??, bukankah ini penyesatan yang nyata??, lantas kenapa antum tidak sibuk-sibuk menyesat-nyesatkan kementrian agama kerajaan Arab Saudi??. Kenapa antum tidak sibuk mentahdzir dan mentabdi' Sang Menteri Agama Arab Saudi Syaikh Sholeh bin Abdil Aziz Aalu Syaikh??, apalagi beliau sering mencukur pendek janggut beliau hafizohulloh??. Kenapa juga antum tidak mentahdzir para ulama yang tidak mentahdzir beliau, bahkan berhubungan baik dengan beliau??!!. Kenapa hanya sibuk ribut dengan saudara-saudara antum yang tidak mengambil dana dari Ihyaa At-Turoots, hanya saja mereka tidak mau membid'ahkan yayasan itu???

(6) Bukankah kerajaan Arab Saudi juga setiap tahunnya mengadakan lomba hafalan dan tilawah al-Qur'an?.  Bahkan sering lomba-lomba ini disiarkan langsung oleh Radio Al-Qur'an Arab Saudi. Yang jadi pertanyaan, "Dimanakah mereka mengadakan lomba tersebut??, apakah di markaz dan masjid Salafy?". Lantas siapakah yang menjadi panitia lomba tersebut??, apakah salafy atau???, demikian juga para pesertanya???. Dan bisa jadi, atau bahkan banyak diantara antum yang menganggap lomba-lomba seperti ini adalah bid'ah yang menyesatkan??. Lantas kenapa antum tidak sibuk mentahdzir dan mentabdi' mereka??. Lantas juga kenapa antum tidak mentahdzir para ulama kibar di Arab Saudi yang mendukung acara-acara seperti ini???

(7) Bukankah Universitas Islam Madinah setiap tahunnya mengadakan dauroh ilmiyah di Indonesia, bahkan juga di banyak negara-negara Islam. Bahkan di Indonesia selalu acara dauroh tersebut diadakan di markaz-markaz ahlul bid'ah, lantas kenapa antum tidak metahdzir dan mentabdi' para masyayikh yang ikut serta dauroh tersebut??!!. Bukankah ini berarti mendukung markaz ahlul bid'ah??. Bahkan Syaikh Abdullah Al-Bukhari juga ikut serta dalam acara dauroh Universitas Islam Madinah sebagai pemateri??!!.

Sekalian saja antum menyatakan bahwa Universitas Islam Madinah jami'ah sesat dan menyesatkan???.

Masih lebih baik Radiorodja dan RodjaTV yang para da'i nya tidak bercampur dan beraneka ragam!!!

(8) Idzaa'atul Qur'an Al-Kariim yang merupakan radio dakwah Arab Saudi yang sangat didukung oleh para ulama. Cobalah kita renungkan, bukankah kebanyakan para pemateri dalam radio tersebut bukan salafy "menurut kacamata/standar" kalian?.

(9) Coba antum perhatikan link-link ceramah di televisi yang disampaikan oleh Asy-Syaikh Al-Mufti Abdul Aziz Aalu Syaikh dan juga Asy-Syaikh Soleh Al-Fauzaan (yang telah saya cantumkan di atas). Bukankah mereka ceramah di stasiun televisi SaufiTV1 (المملكة العربية السعودية القناة الأولى), ternyata stasiun tersebut bukan stasiun TV dakwah murni, akan tetapi stasiun TV umum, dan program-program acaranya pun umum. Sehingga yang muncul di stasiun TV tersebut berbagai macam model. Lantas kenapa bisa kedua syaikh ini mau mengisi ceramah di stasiun TV yang seperti ini modelnya??!!

Jika kami mengikuti manhaj antum "manhaj MLM dalam mentahdzir dan mentabdi" maka kami katakan antum juga sebenarnya ahlul bid'ah, karena tidak membid'ahkan Robithoh al-'Aaalam Al-Islaami, dan juga tidak membid'ahkan pemrakarsanya –yaitu Syaikh Bin Baaz rahimahullah-, antum juga tidak membid'ahkan al-Majma' al-Fiqhi, antum juga tidak membid'ahkan para ulama yang bermu'amalah dengan yayasan Ihyaa At-Turoots, terlebih-lebih lagi para ulama yang memuji yayasan tersebut???.

Akan tetapi tentu kami tidak mau menggunakan manhaj tahdzir dan tabdi' ala MLM antum ini !!!



KELIMA : Ketahuilah bahwa manhaj antum dalam tahdzir dan guluw sangat tipis perbedaannya dengan manhaj haddadiyah yang jika ada seorang yang salah sekali atau dua kali atau 10 kali lantas antum keluarkan dari ahlus sunnah sehingga menjadi ahlul bid'ah yang harus dijauhi.

Padahal para ulama telah menjelaskan dengan panjang lebar bahwasanya untuk menghukumi seseorang keluar dari ahlus sunnah tidaklah mudah, harus dilihat jenis kesalahannya, kemudian apakah kesalahannya banyak atau tidak….?

Karena kalau setiap ada yang salah lantas dikeluarkan dari ahlus sunnah (itupun kalau salah, bahkan bisa jadi merupakan kebenaran…) maka tidak seorangpun yang akan selamat.

(Silahkan baca kembali tulisan : Muwaazanah… Suatu Yang Merupakan Keharusan…? Iya, Dalam Menghukumi Seseorang Bukan Dalam Mentahdzir !!)

Antum tentu bukan bermanhaj haddadiyah yang menyatakan Ibnu Hajar dan An-Nawawi sebagai ahlul bid'ah dan buku-buku mereka hendaknya dibakar. Antum tentu memberi udzur kepada kedua imam ini, karena kebaikan mereka yang begitu banyak. Lantas kenapa antum tidak memberi udzur kepada saudara-saudara antum sebagai sesama dai ahlus sunnah?. Padahal kesalahan para dai tersebut belum tentu salah (karena merupakan permasalahan ijtihadiah), bahkan bisa jadi mereka yang benar. Jika merekapun salah maka bukan dalam permasalahan aqidah. Jika mereka salahpun kesalahan mereka tidak banyak, hanya tentang mengenai cara atau metode bermuamalah dengan orang-orang di luar ahlus sunnah. Kesalahan-kesalahan mereka sangat-sangatlah kecil dibandingkan kesalahan Imam An-Nawawi dan Ibnu Hajar rahimahumallah.  Lantas kenapa antum tidak memberi udzur kepada mereka??

Syaikh al-'Utsaimin telah menegaskan bahwasanya orang yang manhajnya seperti ini, yaitu hanya mengingat satu atau dua kesalahan dan melupakan banyak kebaikan adalah manhajnya para wanita. Beliau rahimahullah  berkata : “Ibnu Rajab berkata dalam muqaddimah kitab Qawaa’id-nya, 'Orang yang adil adalah orang yang memaafkan kesalahan seseorang yang sedikit karena kebenarannya yang banyak.'Tidaklah seorang pun mengambil kesalahan dan lupa dengan kebaikan melainkan ia telah menyerupai para wanita. Sebab jika engkau berbuat baik kepada seorang wanita sepanjang zaman lalu ia melihat satu keburukan padamu niscaya ia akan berkata, 'Aku sama sekali tidak melihat kebaikan pada dirimu.' Tidak seorang lelaki pun ingin kedudukannya seperti ini, yaitu seperti wanita, yang mengambil satu kesalahan kemudian melupakan kebaikan yang banyak.” (Liqaa' al-Baab al-Maftuuh, no (120), side A)

Berikut ini potongan-potongan dari perkataan Syaikh Al-'Utsaimin tentang perselisihan yang terjadi diantara ahlus sunnah

"Apakah engkau Quthbi ataukah Jamiah? Ini semua tidak perlu….

Jika para pemuda dididik di atas manhaj seperti ini maka keesokan hari akan menimbulkan keburukan yang sangat besar….

Apakah termasuk keadilan jika seseorang mencela orang lain dan sama sekali tidak menyebutkan kebaiknnya?, manhaj seperti ini jelas salah" (ini hanya potongan-potongan perkataan syaikh Utsaimin, silahkan dengarkan file suaranya secara lengkap di
 
KEENAM : Antum tentu sangat paham bahwasanya permasalahan al-jarh wa at-ta'diil terhadap seorang rawi tertentu ternyata sangat banyak pula terjadi perselisihan diantara para ulama hadits. Ternyata permasalahan menta'dil atau menjarh adalah permasalahan ijtihadiah. Demikian pula praktek para ulama zaman sekarang, bisa kita lihat contohnya antara perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan para ulama dalam menghukumi seseorang. (silahkan lihat kembali Salah Kaprah Tentang Hajr (Boikot) terhadap Ahlul Bid'ah (Seri 5): Contoh Nyata Khilaf Ijtihadiah Diantara Para Ulama Tentang Menghukumi Seseorang)

Demikian pula bahwasanya permasalahan tentang yayasan Ihyaa At-Turoots juga merupakan permasalahan ijtihadiah. Dan hal ini juga tentu telah diakui oleh sebagian antum (silahkan lihat peryataan Ustadz Muhammad Umar As-Sewed hafizohulloh di

Yang anehnya sebagian orang mengajak untuk bersikap keras dengan berdalil bahwasanya jika seorang berijtihad bisa benar dan bisa salah, bukan benar terus.

Kita katakan, ini merupakan perkara yang telah diketahui oleh orang awam salafy. Akan tetapi yang menjadi permasalahan "Bagaimanakah manhaj Ahlus Sunnah dalam menghadapi permasalahan khilaf ijtihadiyah??"

Apakah seseorang yang tidak ikut mentabdi' yayasan Ihyaa At-Turots otomatis menjadi ahlul bid'ah? Apakah jika seseorang tidak setuju dengan hobi antum yang suka mentabdi' maka iapun menjadi ahlul bid'ah??!!

Renungkanlah Fatwa Syaikh Al-'Utsaimin rahimahullah berikut ini:
 السائل: البارحة تكلمتُ معكم ولديَ بعض الأسئلة

الشيخ ابن عثيمين: تفضل!

السائل: يا شيخ أنت تعلم ماذا يجري الآن مِن فتنة بين أهل السنة في هذه البلاد خاصة، وهذا الأمر تحوَّل عندنا إلى أمرٍ خطير، حتى إن كثيرا من المساجد تفرق الإخوة فيها!

فلديَّ سؤال؛ السؤال الأول -يا شيخ-: إذا اختلف بعض العلماء في بعض الدعاة في تجريح..
الشيخ ابن عثيمين -مقاطِعًا-: إيش.. إيش؟

السائل: إذا اختلف بعضُ الدعاة في تجريح شخصٍ أو تعديله؛ يعني: بعض الدعاة عدَّل والبعض الآخر جرَّح، هل يلزم من ذلك تجريحُ مَن عدَّل؟

الشيخ ابن عثيمين: لا، ما يلزم.
Penanya : Kemarin malam aku telah berbicara dengan Anda, dan saya memiliki beberapa pertanyaan.

Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah : Silahkan

Penanya : Ya syaikh, engkau tahu apa yang terjadi sekarang tentang fitnah diantara ahlus sunnah di negara ini khususnya. Perkara ini di tempat kami telah menjadi perkara yang berbahaya, bahkan banyak masjid-masjid yang para ikhwah berpecah di dalamnya.

Maka saya memiliki pertanyaan. Pertama ya syaikh, jika sebagian ulama berbeda pendapat tentang (hukum) sebagian dai dalam menjarhnya (atau mentahdzirnya)

Syaikh : Apa? Apa?

Penanya : Jika sebagaian dai berbeda pendapat dalam menjarh (mentahdzir) atau menta'dil (merekomendasi) seseorang?, sebagian dai merekomendasi dan sebagian yang lain menjarh, apakah hal ini mengharuskan untuk menjarh dai yang merekomendasi?

Syaikh : Tidak harus demikian.
السائل: ما يلزم من ذلك..

الشيخ ابن عثيمين: لا، ما يلزم؛ لأن الذي عدَّل عدَّل على حسب اعتقاده، فإن أصاب فله أجران، وإن أخطأ فله أجر.

السائل: نعم، ولكن هو الذي عدَّل لا يلزم أنَّنا نجرِّحه؟

الشيخ ابن عثيمين-: قلتُ لكَ: لا، لا يلزم

السائل: نعم -شيخ-.
Penanya : Tidak harus demikian?

Syaikh : Tidak, tidak harus, karena orang yang merekomendasi, ia merekomendasi berdasarkan keyakinannya, jika ia benar maka ia mendapatkan dua pahala, dan jika ia salah maka ia mendapatkan satu pahala.

Penanya : Iya, akan tetapi apakah kita tidak wajib menjarh orang yang merekomendasi?

Syaikh : Aku telah katakan kepadamu, tidak wajib

Penanya : Iya syaikh.
طيب؛ نحن -الآن-شيخنا- نمر بمرحلة: أن كثير من المساجد -الآن- الإخوة أصبحوا يُطلقوا علينا أنَّنا مبتدِعة وأنَّنا ضُلَّال؛ لأننا لم نُبدِّع مَن أرادوا أن يُبدِّعوه، أو نجرِّح مِن أرادوا أن يُجرِّحوه.

الشيخ ابن عثيمين: إن كان ما قلتَه حقًا: فهؤلاء اتَّبعوا أهواءهم.

السائل: بارك الله فيك -يا شيخ-.

الشيخ ابن عثيمين: المسائل الاجتهادية ما يُجرَّح بها الإنسان إلا إذا خالف السَّلف.
Baik, ya syaikhunaa, sekarang kami sampai pada suatu tahapan dimana banyak dari masjid-masjid, yang para ikhwahnya sekarang menyebut kami sebagai mubtadi' dan sesat, karena kami tidak membid'ahkan orang yang hendak mereka bid'ahkan, atau kami tidak menjarh orang yang mereka hendak jarh.

Syaikh : Jika apa yang kau katakan benar, maka sesungguhnya mereka telah mengikuti hawa nafsu mereka.

Penanya : Baarokallahu fiik ya syaikh.

Syaikh : Tidak boleh seseorang menjarh yang lain dalam permasalahan ijtihadiah, kecuali jika ia menyelisihi para salaf.
السائل: نعم. القضية هي مُتعلقة في عَين رجل -شيخ-، وهو -أتصوِّر تعرفه- الشيخ عدنان عرعورز

الشيخ ابن عثيمين: نعم. أنا أقول -بارك الله فيك-: لا يحل لنا أن نجعل أشخاصًا رموزًا -نوالي مَن والاهم، ونُعادي مَن عاداهم-؛ لأن الإنسان يُخطئ ويُصيب.

السائل: نعم. شيخ؛ نحن لدينا -هنا- دورات -أحيانًا- علميَّة، وندعو فيها أمثال الشيخ عدنان، فهل تنصحنا بدعوةِ الشَّيخ عدنان؟

الشيخ ابن عثيمين: مَن قال لكَ إنِّي أجرِّح عدنان؟

السائل: أنا ما قلتُ أنك تجرِّح..

الشيخ ابن عثيمين: هذا غلط منك! هل أنا أقول للناس: لا تدعون فلان ولا تدعون فلان؟،

!! اقْبَل الحق ولو مِن الشيطان. تعرف الشيطان ولا ما تعرف الشيطان؟!!

السائل: نعم - شيخ- نعم، حديث أبي هريرة.

شيخ؛ أنا أسأل هذا السؤال؛ لأن بعض الإخوة -في مناطق أخرى- قالوا أنكم تُجرِّحون الرجلَ، ولا تنصحون باستدعائه واستقدامِه لإلقاء محاضرات ودروس؛ هل هذا صحيح؟

الشيخ ابن عثيمين: هذا كذب علينا، وما أكثر ما يُكذب علينا!!

السائل: بارك الله فيك -يا شيخ- وهذا ظننا بكم.
Penanya : Iya syaikh, permasalahannya berkaitan dengan individu, saya rasa engkau mengenalnya, beliau Syaikh 'Adnan 'Ar'ur.

Syaikh : Iya (saya mengenalnya), saya katakan -baarokallahu fiik- : Tidak halal bagi kita, menjadikan sebagian orang sebagai simbol dalam berwala (loyal), yaitu loyal kepada orang yang loyal kepadanya, dan memusuhi orang yang memusuhinya, karena seseorang bisa benar dan bisa salah.

Penanya : Iya ya syaikh, kami kadang menyelenggarakan dauroh-dauroh ilmiyah dan kami mengundang dai seperti Syaikh Adnan, maka apakah anda menasehati kami untuk mengundang Syaikh Adnan??

Syaikh : Siapa yang menyampaikan kepadamu bahwa saya menjarh 'Adnan?

Penanya : Saya tidak berkata bahwa engkau menjarhnya…

Syaikh : Ini adalah kesalahan, apakah aku mengatakan kepada masyarakat "Janganlah kalian mengundang si fulan dan sifulan?", terimalah kebenaran meskipun dari syaitan. Apakah engkau tahu syaitan atau tidak?

Penanya : Iya, iya syaikh, hadits Abu Huroiroh. Syaikh, saya bertanya tentang pertanyaan ini karena sebagian ikhwah di daerah-daerah yang lain mengatakan bahwa Anda menjarh Syaikh Adnan, dan engkau tidak menasehatkan untuk mengundang dan mendatangkannya untuk menyampaikan pengajian-pengajian. Apakah ini benar?

Syaikh : Ini adalah dusta, dan betapa banyak kedustaan yang disandarkan atas nama kami.

Penanya : Baarokallahu fiik, itulah anggapan kami terhadap Anda
والسؤال الثالث -شيخ-؛ وهو مسألة التحاكُم بين الشيخ ربيع والشيخ عدنان؛ لماذا -يا شيخ- ما تحكموا أنتم في هذه المسألة، ونرتاح من هذه الفتنة العظيمة؟

الشيخ ابن عثيمين: نحن -الآن- نسعى في هذا، ونسأل الله أن يسهِّل.

السائل: طيب، وهل المشايخ يَقبلون..

الشيخ ابن عثيمين -مقاطعًا-: دعونا في هذا، وأسأل الله أن ييسر.
Pertanyaan ketiga wahai syaikh, tentang permasalahan tahaakum (pengadilan) antara Syaikh Robii' dan Syaikh Adnan. Ya Syaikh, kenapa kalian tidak menghukumi dalam permasalahan ini, sehingga kami bisa bebas dari fitnah yang besar ini.

Syaikh : Kami sekarang sedang berusaha untuk ini, dan kami berdoa semoga Allah memudahkannya.

Penanya : Baik, apakah para masyayikh mau menerima?

Syaikh : Biarkanlah kami dengan usaha kami ini, aku mohon kepada Allah semoga Dia memudahkannya"

Silahkan dengar file suaranya di

KETUJUH : Coba renungkanlah kembali kondisi antum sekarang ini…sudah menjadi berapakah kelompok antum sekarang ini…??, antum selalu berpecah belah…sahabat menjadi lawan.., guru menjadi musuh…, murid berbalik menyerang…??. Ini adalah hasil dari sikap antum yang ekstrim dalam mentabdi'.

Seorang syaikh yang dahulunya sering ke Indonesia menasehati kalian…bahkan mendamaikan kalian…sekarang harus menjadi mubtadi' di mata sebagian kalian??. Apakah ini ciri ahlus sunnah wal jamaa'ah??

Sehingga akhirnya antum menjadi bahan tertawaan ahlul bid'ah yang mengatakan bahwa ciri alhul bid'ah (khususnya khawarij) adalah senantiasa berpecah belah.

Padahal antum sama-sama sepakat tidak mengambil dana dari yayasan Ihyaa At-Turoots, bahkan antum sepakat membid'ahkan yayasan…, bahkan membid'ahkan orang yang diam dan tidak mentahdziir…!. Lantas kenapa antum masih terus berselisih dan saling membid'ahkan…

Demi Allah… apa sih permasalahan-permasalahan yang menyebabkan antum saling membid'ahkan??, apakah permasalahan aqidah?, ataukah permasalahan sepele yang dibesar-besarkan??

Adapun kami, meskipun ada sedikit perselisihan akan tetapi tidak sampai pada tahapan membid'ahkan…, siapa sih yang tidak lepas dari kesalahan??

 

KEDELAPAN : Orang-orang yang antum tuduh sebagai sururi (Radiorodja, pondok Imam Al-Bukhari, Pondok Jamilurrahman, dll) apakah mereka pernah terjerumus dalam kesalahan-kesalahan sururiyah….setelah sekitar 15 tahun antum mentahdzir dan membid'ahkan…coba sebutkan kepada saya apa saja kesalahan-kesalahan mereka yang merupakan ciri-ciri sururiyah??

Bukankah justru antum yang pernah terjerumus dalam kesalahan-kesalahan sururiyah??, yang anehnya tatkala sementara antum terjerumus dalam kesalahan-kesalahan sururiyah antum masih sempat-sempatnya menuduh kami sururi??, bukankah ini yang disebut dalam pepatah "maling teriak maling.."??

Berikut pengakuan al-Ustadz Al-Fadhil Muhammad As-Sewed hafizohulloh tentang kesalahan-kesalahan kalian…

Beliau –hafizohulloh- berkata :

"Saat kami menjalani jihad di Ambon (Maluku) dan Poso (Sulteng), karena dalam jihad tersebut kami banyak terjatuh pada penyimpangan-penyimpangan lain yang tidak sejalan dengan Manhaj Salaf.

Tanpa terasa kami terjerumus ke dalam berbagai penyimpangan yang bermuara pada satu titik yaitu politik massa atau penggunaan potensi massa dalam perjuangan. Sungguh kesesatan seperti inilah yang terjadi pada Ahlul bid’ah dan hizbiyyun dari kalangan Ikhwanul Muslimin, Quthbiyyin (pengikut Sayyid Quthb) dan Sururiyyin (pengikut Muhammad Surur) dan lain-lain. Dengan penyimpangan yang kami jalani saat itu, muncullah tindakan-tindakan persis seperti yang dilakukan Ikhwanul Muslimin, diantaranya :

1. Sistem komando yang meluas menjadi organisasi yang digerakkan dengan sistim imarah dan bai’at.
2. Lebih mementingkan kuantitas daripada kualitas dalam organisasi
3. Demonstrasi, unjuk rasa dan yang sejenisnya menjadi hal yang biasa
4. Mencari dukungan politis dari berbagai kelompok dengan tidak memperhatikan apakah mereka Ahlus Sunnah, orang awam atau Ahlul Bid’ah
5. Dari sinilah timbul ide untuk mengadakan Musyawarah Kerja Nasional. (Mukernas) dengan mengundang tokoh-tokoh politik dan Ahlul Bid’ah
6. Mulai menggampangkan dusta dengan dalih bahwa perang adalah tipu daya
7. Bermudah-mudahan dalam maksiat seperti fotografi dan ikhtilath
karena mengimbangi orang awam
8. Mengingkari kemungkaran dengan menggunakan gerakan massa dan kekerasan dan seterusnya…"

Demikian cuplikan perkataan Ustadz Muhammad As-Sewed hafizohulloh, sebagaimana bisa dilihat di  (http://www.salafy.or.id/ruju/)

 

KESEMBILAN : Antum tentu paham bahwasanya bid'ah bertingkat-tingkat, tidaklah sama antara bid'ah dalam permasalahan mu'amalah dengan bid'ah yang berkaitan dengan aqidah. Tidak sama antara bid'ah yang tidak sampai pada kekufuran dengan bid'ah yang sampai pada kekufuran.

Demikian pula mensikapi para pelakunya juga tentu ada perbedaan. Yang jadi masalah, antum mengambil perkataan-perkataan salaf tentang kerasnya mereka terhadap ahlul bid'ah jahmiyah (yang merupakan bid'ah kekufuran) lantas antum terapkan pada orang-orang yang sama sekali tidak melakukan bid'ah… akan tetapi hanya tidak ikut-ikutan gaya antum yang tukang mentahdzir???

 

KESEPULUH : Apakah antum tidak bermu'amalah sama sekali dengan ahlul bid'ah??? Ataukah antum menimbang dengan dua timbangan…?, kalau antum yang bermu'amalah maka tidak mengapa??

(1) Apakah antum hanya mengisi pengajian di masjid-masjid salafy saja?. Ternyata banyak kajian antum yang dilaksanakan di masjid-masjid umum?. Bukankah takmir-takmir masjid tersebut tidak semuanya salafy?, lantas kenapa antum masih mau kerjasama untuk meminta izin kepada mereka??. Bukankah ahlul bid'ah juga ikut mengisi di masjid-masjid tersebut??

(2) Tentunya antum tahu, bahwasanya para salaf tatkala menyuruh untuk menghajr mubtadi', adalah dengan menghajrnya secara total, bahkan dalam urusan dunia pun tidak boleh bermu'amalah. Lantas apakah antum sama sekali tidak pernah bermu'amalah dengan ahlul bid'ah??

Apakah antum tatkala belanja di pasar hanya membeli ke toko-toko salafy?, apakah antum tatkala umroh dan haji hanya naik pesawat salafy?

 

KESEBELAS : Mengingatkan kembali nasehat Syaikh Sholeh Al-Fauzan hafizohulloh agar kita bersatu dan bekerjasama, dan hendaknya adanya kekurangan diantara kita tidak menghalangi kita untuk saling bersaudara, tentu nasehat tetap berjalan diantara kita.

Sementara musuh-musuh kita bersatu….

Kita sekarang bisa melihat di tanah air kita…betapa giatnya dakwah syi'ah…betapa semarak dan berkembangnya dakwal liberal…kaum sufi pun tidak patah semangat untuk terus memfitnah dakwah salafiyah…

Sementara kita …sibuk…sibuk mencari kesalahan saudara-saudara sesama ahlus sunnah, sibuk mentahdzir…

Jikalau seandainya setiap kita memfokuskan energi dan memeras otaknya untuk membantah aliran-aliran sesat yang ada di tanah air maka sungguh akan banyak mendatangkan keberkahan dan perbaikan. Sungguh telah banyak waktu, energi, dan pikiran yang terkuras hanya karena untuk mencari-cari kesalahan saudara sendiri sesama Ahlus Sunnah wal Jamaa'ah.

Syaikh Abdul Muhsin Al-'Abbaad hafizohulloh berkata :
وإن مما يؤسف له في هذا الزمان ما حصل من بعض أهل السنة من وحشة واختلاف، مما ترتب عليه انشغال بعضهم ببعض تجريحاً وتحذيراً وهجراً، وكان الواجب أن تكون جهودهم جميعاً موجهة إلى غيرهم من الكفار وأهل البدع المناوئين لأهل السنة، وأن يكونوا فيما بينهم متآلفين متراحمين، يذكر بعضهم بعضاً برفق ولين
"Sesungguhnya diantara perkara yang menyedihkan di zaman ini adalah pertikaian dan kerenggangan yang terjadi diantara ahlus sunnah. Hal ini menyebabkan sibuk saling mentahdzir, menghajr, dan saling menjatuhkan diantara mereka. Padahal yang wajib adalah memfokuskan energi dan kerja keras mereka seluruhnya untuk menghadapi selain mereka, dari kalangan orang-orang kafir dan para ahlul bid'ah yang memusuhi ahlus sunnah. Dan hendaknya mereka (ahlus sunnah) saling bersatu diantara mereka, saling merahmati diantara mereka, saling mengingatkan diantara mereka dengan lembut dan ramah" (lihat muqoddimah kitab Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah)

Syaikh Soleh Al-Fauzaan hafizohullah berkata :
أنا أقول اتركوا الكلام في الناس اتركوا الكلام في الناس ، فلان حزبي ... فلان كذا ... اتركوا الكلام في الناس ابذلوا النصيحة وادعو الناس إلى اجتماع الكلمة ، وإلى تلقي العلم عن أهله ، وإلى الدراسة الصحيحة ، إما دراسة دينية وهذه أحسن ، أو دراسة دنيوية تنفع نفسك وتنفع مجمتعك ، أما الاشتغال بالقيل والقال ، فلان مخطىء ، وفلان مصيب ، وفلان كذا... هذا هو الذي ينشر الشر ، ويفرق الكلمة ، ويسبب الفتنة...إذا رأيتَ على أحدٍ خطأ ..تناصحه بينك وبينه مب تجلس في مجلس ، تقول فلان سوى كذا وفلان سوى كذا...تناصحه فيما بينك وبينه ..هذه النصحية أما كلامك في المجلس عن فلان هذه ليست نصيحة هذه فضيحة..هذه غيبة..هذه شر . نعم
"Aku katakan tinggalkan penghujatan kepada manusia, si fulan hizbi.., si fulan demikian dan demikian…, tinggalkanlah penghujatan kepada manusia, berikanlah nasehat, ajak masyarakat kepada persatuan dan menimba ilmu dari ahlinya, kepada belajar yang benar. Apakah belajar agama –dan ini yang terbaik- atau belajar ilmu dunia, memberi manfaat bagi dirimu dan bagi masyarakatmu. Adapun sibuk dengan qiila wa qoola (katanya..dan katanya…), si fulan salah, si fulan benar, si fulan demikian…inilah yang menebarkan keburukan dan memecahkan persatuan, dan menyebabkan fitnah. Jika engkau melihat ada seseorang yang salah maka nasehatilah dia antara engkau dan dia, bukan engkau duduk di majelis lalu engkau berkata, "Si fulan telah melakukan demikian…, si fulan telah melakukan demikian..", engkau menasehatinya antara engkau dan dia. Ini adalah nasehat, adapun engkau membicarakannya di majelis tentang si fulan maka ini bukanlah nasehat, ini adalah pencemaran.., ini adalah gibah, ini adalah keburukan" silahkan dengar file suaranya di

KEDUA BELAS : Kita sangat mengkhawatirkan sebagian orang yang ikut-ikutan mentahdzir karena "takut" ditahdzir jika tidak mentahdzir. Atau takut menyapa saudara seberangnya karena "takut ketahuan" dan akhirnya ditahdzir juga.

Jangan sampai kita hanya ikut-ikut mentahdzir dan mentabdi' tanpa ada keyakinan dan kepastian, akan tetapi karena takut dan mencari keridoan sahabat-sahabat kita yang tukang tahdzir dan tukang tabdi'. Atau seseorang ikut-ikutan mentahdzir dan bersikpa keras hanya karena takut ditabdi' dan ditahdzir oleh gurunya jika tidak bersikap keras. Ketahuilah ini semua adalah bentuk beramal karena manusia dan bukan beramal karena Allah. Ini merupakan salah satu bentuk kesyirikan …!!!!

Sungguh kita sangat gembira tatkala mengetahui banyak saudara-saudara kita yang meskipun mengajinya di seberang akan tetapi ternyata juga hobi mendengarkan Radio rodja atau menonton Rodja TV. Mudah-mudahan ini merupakan langkah awal menuju persatuan di kemudian hari.

Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 09-04-1434 H / 19 Februari 2013 M
Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja MA

Arsip Blog